Entries Tagged 'Sosial' ↓
December 17th, 2007 — Sosial
RW tetangga …, maksudnya warga RW di luar komplek perumahan saya. Sekitar 15 tahun ini telah mengadakan tabungan Qurban. Idenya dari salah satu pemuka agama di sana. Tujuannya, agar kita (masyarakat yang beragama Islam) membiasakan diri untuk berqurban. Qurban itu penting, tidak usah nunggu uang berlimpah, kata beliau.
Tiga tahun lalu, Bapak yang punya ide ini sering ke tempat saya untuk mengetik tabungan qurban. Beliau tidak nawarin, tapi karena sering bolak-balik ngurusin qurban dari orang-orang, saya akhirnya tertarik untuk bertanya dan pernah ikutan sekali. Malu juga si, masak ga bisa berqurban.
Kalau saya, kalau berqurban pasti pikirannya sama sapi, padahal bisa dengan kambing. Kalau kambing dijamin ga ada yang makan, dan saya kasihan sama orang-orang yang saya kasih, takut sakit. Kita tidak tahu apakah sipenerima qurban ini, cocok atau tidak dengan kambing. Pernah sih niatan pake model ditanya dulu, misalnya “Pak, Bu, apakah punya penyakit darah tinggi ?” hehehe …
Kalau berqurban sapi, wah … 7 juta rupiah, duh … kalau sendiri, belum mampu. Dengar angkanya saja udah “Woouuwww”. Bapak ini modelnya sebagai berikut 1 sapi buat 7 orang (misalnya). Setiap bulan nabung Rp. 85.000,-. Waktu tiga tahun lalu Rp. 50.000,- per bulan, dengan harga sapi kurang dari 7 juta. Jadi angka nabungnya sesuai dengan harga sapi.
Kalau kambing, juga memakai sistem nabung. Nabungnya sesuai dengan harga kambing, biasanya 1 kambing untuk 1 orang.
Beliau juga menyediakan kartu tabungan, pokoknya Bapak ini rapi banget. Ada kalung yang isinya nama-nama orang yang berqurban, ada surat undangan, surat ucapan terima kasih dsbnya. Bapak ini ga digaji lho
kerjanya sukarela.
Dengan sistem menabung, lumayan banyak yang ikutan dan kita yang nabung tidak berat.
Kalau ada kelebihan uang tabungan, dihibahkan ke masjid sebagai bekal di dunia sana.
December 2nd, 2007 — Kesehatan, Sosial
Kalau lihat berita di televisi dan koran, narkoba semakin hebat saja. Jadi ingat tahun 1991, ditanya sama teman-teman.
Waktu keluar main saat SMA kelas 3, para cewe-cewe ngobrol soal cita-cita. Biasanya saya paling terakhir menjawab pertanyaan.
“Auliah, apa cita-cita kamu kalau lulus SMA ?”
Dengan mantap saya berkata,
“Mau jadi Psikolog, kerja di Komdak bagian obat-obatan terlarang”
“Ahhh .. jadi polisi ?”, kata teman
“Bukan jadi polisi, seru kali yach … Selain kerja di Komdak, buka praktek untuk konsultasi orang-orang yang terkena obat-obat terlarang. Saat saya lulus, pasti yang terkena obat-obat terlarang makin banyak”
“Kok ngedoain sih !!”, kata-teman-teman
Saya cuma bengong and than “Hmm … iya ya …. kok gitu ngomongnya. Duh, padahal ga bermaksud untuk mendoakan sih, kalau saya lulus nanti diperkirakan … menurut saya sudah banyak yang terkena narkoba.”
Pada tahun 1991, penderita narkoba belum seramai sekarang. Dalam 1 sekolah yang kena cuma 1 orang itupun ditutup-tutupin. Pemberitaan soal bahaya narkoba pun belum banyak menghiasi berita-berita dikoran dan televisi negeri kita yaitu TVRI. Efek negatif narkoba saya juga kurang banyak tahu. Dulu, yang terkenal itu ganja.
Dan dulu Psikologi bisa menjadi Psikiater jika ambil S2. Itu seingat saya.
November 24th, 2007 — Sosial
Ada wanita yang datang ke tempat saya untuk mengetikan data anak-anak asuhannya kurang lebih 200 orang.
Keesokan harinya diambillah ketikannya. Setelah ditanya kenapa banyak sekali yatim piatu. Dia pun menjelaskan, yatim piatunya seperti ada yang yatim saja, piatu saja atau yatim piatu. Katanya ada lagi kurang lebih 200 orang. Saya terkejut dan sekaligus sedih … banyak banget.
Kok seperti habis perang saja yach.
Kata wanita tersebut, pada umum anak-anak dari balita sampai usia SMA.
Yap, saya sudah baca jenjang pendidikan mereka dan usianya.
Pada umumnya di Indonesia jika salah satu atau kedua orang tua meninggal dunia dan meninggalkan anak akan dititipkan ke kerabat tersebut. Tapi ditempat wanita tersebut, kebanyakan kerabat paling dekat tidak mampu. Untuk membiayakan diri sendiri dan keluarganya tidak sanggup bagaimana merawat anak orang.
Ada model yang lain, salah satu orang tua si anak ada yang kabur alias menghilang tanpa kabar. Pada umumnya orang tua laki-laki.
Panti Asuhan tempat dia bekerja merupakan milik keluarga. Saya dengar-dengar tanah dan bangunannya akan diperluas. Anak-anak di Panti Asuhan tersebut ada yang tinggal disana, ada anak yang tinggal dengan kerabatnya tapi uang sekolah dan makan diberikan, yach ongkos hiduplah. Dan semua anak tersebut sekolah agama seperti madrasah.
Sebenarnya saya tidak jauh dari lingkungan yatim piatu. Bapak saya, waktu umur 8 tahun telah ditinggal Bapaknya. Umur 10 tahun ditinggal Ibunya. Saudara-saudara sekandung yang berjumlah 6 orang (kalau ga salah ingat) meninggal dunia dalam jarak tahun yang tidak lama. Bapak saya bukan bungsu asli, adiknya sudah meninggal terlebih dahulu waktu kecil banget.
Jadi Bapak saya kalau cerita wajah Ibunya pasti diawali “Kata orang, Nenek Auliah kayak bule, putih bersih, dan paling cantik”. Yang paling yakin cuma perawakan Kakek.
Yang meninggal terakhir kakak perempuan Bapak. Saat itu, saya masih kelas 6 SD. Beliau meninggalkan anak-anak seusia saya. Sebelumnya kakak perempuannya yang lain, seingat saya 2 atau 3 tahun sebelumnya, juga meninggal dunia. Jadi Bapak saya sebatang kara. Ibu saya pun waktu usia 10 tahun telah ditinggal Bapaknya.
Meninggalnya kakak Bapak, saya sampai sekarang masih membekas, melihat keponakan-keponakan Bapak yang masih kecil-kecil dan tidak mengerti. Kalau ingat itu saya bersyukur karena masih utuh orang tua sampai sekarang.
2 lebaran kemarin, waktu lihat acara Dorce Show. Dorce sedang cerita orang tuanya, saya lihat Bapak menyeka matanya. Saya baru lihat. Akhirnya saya tahu bagaimana perasaan Bapak kalau di hari raya Idul Fitri. Selama ini saya selalu melihat beliau happy-happy saja.
November 23rd, 2007 — Sosial, Story
Seorang ayah bercerita dengan bangga kepada anaknya yang beranjak remaja.
Dimulailah cerita tersebut ….
Waktu SMA dulu, ayah jadi Ketua Osis, kemana-mana hayoo. Panjat tebing, naik gunung, main musik, main drama, sibuk sana sibuk sini. Pokoknya ayah populer saat itu dan disayang guru. Dan pasti dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 semua kenal ayah. Beberapa teman-teman ayah saat ini ada yang sudah terkenal jadi artis, pejabat, pengusaha dan macam-macam deh. Satu persatu ayah sebutkan nama-nama temannya yang terkenal sekarang dan beberapa ada yang dikenal si anak karena pernah lihat ditelevisi.
Dulu ayah menggunakan pakaian model yang lagi trend zaman itu. Mulai dari atas rambut sampai kaki, trend habis. Kalau anak sekarang bilangnya “Anak Gaul”.
Anaknya mendengarkan dengan seksama dan penuh kekaguman. “Ayahku hebat”.
“Bagaimana pelajaran ayah?”, tanya anaknya.
Karena kebanyakan ngadain kegiatan dan jadi panitia itu dan ini, pelajaran akhirnya jatuh walaupun waktu ujian terakhir lulus dengan nilai pas-pasan.
Suatu hari anaknya menghadap dan mengajukan izin.
“Ayah, saya boleh ikutan OSIS ?”
“Ngapain kamu ikutan OSIS ? Menghabiskan waktu saja, nanti pelajaran kamu tertinggal !”, katanya ayahnya dengan nada kurang senang.
Dengan pandangan heran dan sedih.
“Tapi ayah …”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu boleh ikut organisasi apapun di sekolah tapi tidak jadi pengurus !”
Dengan hati sedih, dia pergi menjauh dari ayahnya.
Sebenarnya anak ayah murid pintar di sekolahnya. Waktu di SD dulu pernah memangku 2 jabatan strategis dan begitu banyak perlombaan yang diikutinya tapi pelajaran tidak tertinggal, selalu rangking.
Sambil duduk termenung di teras rumah, “Mungkin ayah benar, nanti pelajaran tertinggal”.
Masuk kuliah, si anak ikut organisasi yang diminatinya.
Suatu hari menghadaplah si anak ke ayahnya dan pertanyaan kurang lebih serupa waktu SMA.
“Ayah, saya boleh jadi panitia “A” ?”
Ayah pun menjawab dengan santai.
“Kuliah aja dulu sampai beres, baru ikutan jadi panitia ini dan itu”
“Tapi ayah …”, jawab si Anak.
“Tidak bisa, kuliah yang benar, boleh ikutan organisasi kampus tapi ga boleh ikutan jadi ketua, wakil ketua, bendahara dll apalagi jadi panitia ini dan itu! Ngabisin waktu, uang dan tenaga !”
Tapi si anak cerdik, diam-diam dia telah menjadi panitia tapi bukan yang strategi, dia menjadi anggota panitia atau wakil panitia. Dan si anak bisa membagi waktu agar tidak ketahuan ayahnya.
Disuatu sore hari, Ayahnya bercerita kembali organisasi yang pernah diikutinya setelah lulus SMA bahkan sampai ikutan partai dan anak partai. Dan seperti biasanya, ayahnya bercerita dan menyebutkan nama-nama teman organisasinya. Ada yang jadi menteri, pejabat, anggota DPR MPR, dubes, diplomat, penguasa, gubernur dan sebagainya.
Dan seperti biasanya sianak mendengarnya dengan kagum.
Suatu hari, pulang dari kerja.
“Ayah, saya diangkat jadi Ketua Panitia di kantor!”
“Bukannya kerja malah jadi ketua! Ngabisin waktu dan uang saja !”
Mendengar hal tersebut si anak cuma tersenyum sinis.
October 30th, 2007 — Sosial
Tetangga saya sewaktu bulan Ramadhan meninggal dunia. Menurut informasi, ahli waris akan mendapatkan santunan sebesar Rp. 2 juta jika berKTP Depok.
Santunan ini terjadi karena janji Walikota Depok sewaktu kampanye Pilkada. Uang ini baru diberikan satu tahun ini, tapi tahun depan tidak tahu.
2 juta ? Berapa orang yang meninggal dunia di Depok setiap harinya ? Dua puluh orang saja meninggal dunia di Depok dalam satu hari, berapa uang yang harus dikeluarkan ?
Uang darimana ?
Nanti kalau Walikota ganti, masih dapat 2 juta juga ?
October 26th, 2007 — Movie, Politik, Sosial
Semenjak tragedi WTC 11 September 2001, sebagian masyarakat dunia menjadi fobia terhadap Islam. Serba curiga, ketakutan terhadap orang-orang yang bernama, bertampang dan berkewarganegaraan yang mayoritasnya Islam.
Shah Rukh Khan bintang film India yang beragama Islam mengakui kesulitan masuk London setelah kejadian tersebut.
Awal tahun depan Bollywood akan mengeluarkan film dengan judul “My Name is Khan”.
Kalau Australia fobia terhadap Indonesia semenjak bom Bali yang menewaskan banyak warganya.
Padahal otak bom Bali tersebut orang “tetangga sebelah”, kita yang kena getahnya
Tetangga saya yang berasal dari NTT kena fobia tersebut. Dia menyusul suaminya yang tinggal di Australia. Dengan wajah seperti orang Papua/Ambon/Timor Leste pastilah aman kesana. Tapi setelah dia bercakap menggunakan bahasa Indonesia sewaktu keluar dari pesawat dengan sesama orang Indonesia yang bertemu di pesawat. Langsung dia diamankan oleh petugas disana.
Semua isi tas diperiksa. Dipegangnya isi tas tersebut dengan pegangan jijik. Badannya pun diperiksa. Dia juga ditanya apa tujuan ke Australia tapi petugas tidak percaya.
Cukup lama diperiksanya dan akhirnya setelah puas mengubek-ubek tas dan bawaan tetangga saya yang tidak terbukti apapun. Kakaknya yang menunggu dari tadi diluar sangat gusar.
Semenjak kejadian tersebut, tetangga saya tidak pernah berbicara dalam bahasa Indonesia di tempat umum.
Bagaimana saya yach … ? Menurut teman-teman, wajah saya seperti orang Arab. Setelah kejadian tsunami seperti orang Aceh. Cuma satu-dua orang bilang wajah saya orang Minang. Kemudian saya pake jilbab plus ditambah lagi nama saya, nama Arab. Walah, bakalan ribet
Keponakan Bapak saya yang sudah lama tinggal di USA sering mengajak ikutan GreenCard. Sebenarnya mau saja tapi ga punya uang (katanya uang ga usah pake alasan) … suer deh ga punya dan yang lebih penting saya TAKUT. Saya lebih aman tinggal di rumah sendiri, Indonesia.
Menurut Organisasi HAM, perlakuan rasis yang menimpa umat Islam pasca tragedi WTC menyebabkan sekitar 500 orang wisatawan dilarang masuk wilayah AS setiap hari. Dan pelarangan itu bisa saja hanya karena dugaan dan tuduhan yang belum berbukti.
October 23rd, 2007 — Photo, Politik, Sosial, Story
Sudah cukup lama saya merasa ada yang aneh dengan wajah Gajah Mada. Tapi entahlah dibagian mana.
Tahun berganti tahun, Gajah Mada terlupakan dan teringatkan.
Dan akhirnya … saat ini saya perhatikan lebih mendalam wajah Gajah Mada dari internet.
Hmm … rupanya bibirnya … bibirnya terlalu tebal. Alisnya kayak perempuan.
Maaf ya … terpaksa nih, ga tahan untuk diungkapkan.
Baca-baca di Paman Google, wajah Gajah Mada yang ada dimana-mana merupakan wajah imajiner pembuatnya.
Walaupun begitu Gajah Mada masih tetap menjadi misteri dalam kehidupan pribadinya. Dan beliau diperebutkan oleh Jawa Tengah dan Sumatera Barat.
October 21st, 2007 — Bisnis, Movie, Politik, Sosial
October 16th, 2007 — Bisnis, Sosial, Traveling
Kemarin, kami sekeluarga kedatangan tamu. Sepupu dan anak-anaknya dari pihak Bapak saya alias tante dan anak-anaknya.
Iseng tanya, kapan nih Silungkang pulang kampuang basamo ? Katanya tahun 2008.
Tahun 2002 pernah pulang kampuang basamo dengan menyewa mobil Bigbird AC 54 duduk sebanyak 5 buah (?) plus kendaraan pribadi kurang lebih 200 yang sudah pulang duluan dengan ukuran dan merk beraneka ragam. Rata-rata dengan mobil keren-keren.
Berhubung kalau lewat darat itu capek, ngabisin piti (uang), melewati medan berat, dan lama. Bagaimana kita semua pada acara Pulang Basamo 2008 nyewa PESAWAT TERBANG. Isinya kita-kita aja, satu kampung. Kalau ga muat 1 pesawat terbang yahh sewa 1 lagi. Jangan lupa yang besar pesawat terbangnya …
Tapi jangan pesawat yang digunakan oleh ABRI untuk ngangkutin barang
Pesawatnya jangan yang ancur, tidak punya history jatuh …. hmm .. ada ga ya …
Pesan tiketnya saat ada promosi murah
kira-kira 5 bulan sebelum lebaran. Nanti di sisi kanan dan kiri badan pesawat, ada spanduk atau stiker gede tertulis “Pulang Basamo Silungkang 2008″ plus sepanjangan perjalanan muncul asap di ekor pesawat dengan tulisan yang sama.
Keren ga ….
Pas turun di Bandara Minangkabau, Bis Bigbird AC sudah tersedia untuk mengantarkan kami ke kampung halaman dan raun-raun (jalan-jalan) Sumatera Barat.
Keren …. 
October 16th, 2007 — Sosial
Tadi subuh, saya bercakap dengan ibu yang akhirnya sampailah ke persoalan pertengkaran kakak dan adik. Kemudian keluarlah bahasa Silungkang soal pepatah “Mancocang Ai” atau bahasa Minangkabaunya “Mencancang Aie”. Seingat saya juga ada dipelajaran SD dulu.
Mancocang ai atau dalam bahasa Indonesia mencicang air. Yap, kita memisahkan air dengan tangan atau pisau tidak bisa, pasti akan kembali lagi alias menyatu tanpa bekas.
Ini diandaikan atau dipakai seperti pertengkaran kakak dan adik, saudara sekandung atau sefamili. Walaupun pertengkaran sangat hebat tetap mereka akan baikan kembali.
Jadi kalau ada pertengkaran sesama sedarah, kakak dengan adik, sefamili, orang lain atau orang ketiga tidak boleh ikut campur apalagi ikut manas-manasin.
Toh, ga lama lagi mereka juga baikan bahkan akrab seperti tidak pernah terjadi sesuatu dimasa lalu.
Bagaimana dengan Malaysia dan Indonesia, apakah kita seperti “Mancocang Ai” saat-saat ini ?
October 16th, 2007 — Sosial, Story
Waktu bulan puasa, ramai sekali yang mengadakan buka bersama dengan singkatan BukBer.
Setelah lebaran, puas-puas sama keluarga dan family saling berkunjung. Kemudian ramailah undangan untuk Halal bi Halal.
Kata Halal bi Halal menurut informasi di NewsDotCom. Siapa ya namanya tuh, coba lihat di websitenya NewsDotCom, mengatakan kata tersebut sudah lama ada saat zaman kemerdekaan yang diadakan oleh kaum muda di Yogyakarta.
Nah, saya dapat undangan atau pemberitahuan untuk Halal bi Halal. Salah satunya dari Awari, teman-teman di Palmerah, dari kampung halaman, dan dengan pasti menyusul dari Al-Azhar.
Yang paling dinanti … Pestablogger Indonesia. Yeahh dapat undangan Free :).
Ada yang dalam 1 hari, 3 acara Halal bi Halal. Kemungkinan besar hanya menghadiri 1 tempat saja.
Sibuk ya 
September 29th, 2007 — Musik, Sosial
Duh, kenapa nih anak-anak muda kok ga tahu diri ?!!! 
Jam 22:00 WIB, jam tidur main band lengkap. Ada drumnya, gitar, bass, mikenya, dll deh. Suaranya besar lagi. Mainnya diluar rumah lagi. Dekat rumah saya. 
Pada buta ya … jam segitu gelap gulita, ga punya jam ya ?!!! Jam segitu jam tidur, binatang aja tahu. Terus kalian main sampai subuh !!!
Berisik tahu !!!!. Ga punya adat, ga tahu diri, egois. Katanya hidup dizaman teknologi, kok otaknya masih primitif !!!
Kalian tahu, pasti tahu … didekat kalian main band ada anak balita yang perlu tidur.
Para tetangga bego juga, ga ada protes, masak saya terus yang protes. Polisi juga diam juga … 
Kenapa sih main diluar ruangan, dimuka umum, waktu malam lagi, emangnya ga punya ruangan kedap suara ?!!! Kasihan amat !!!
GW MAU TIDUR !!!! TAPI GA BISA TIDUR !!!! ANAK-ANAK MUDA GA TAHU DIADAT, GA PUNYA EMPATI !!!! GA BERPENDIDIKAN !!!!


September 25th, 2007 — Jokes, Politik, Sosial

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekarang orang Korea Selatan. Tadi pagi sampai sore berita televisi sering menyebutkan nama Sekretaris PBB sekarang.
Coba dengarkan baik-baik, penyiar televisi mengucapkan namanya “Bang Kimun” 
Hebat lho Bang Kimun jadi Sekjen PBB … 
September 21st, 2007 — Sosial, Story
Menurut saudara saya, dimilist-milist lagi heboh soal gempa 9 SR. Tapi dibeberapa milist yang saya ikutin belum beredar ya …
Informasi yang pertama saya dengar itu dari wawancara MetroTV dengan ahli geologi BPPT. BPPT dan BMG sudah memperkirakan setahun yang lalu bahwa gempa di Bengkulu itu memang akan terjadi. Permasalahannya tidak tahu kapan.
Dari pada kita “pusing” sama urusan gempa, bagaimana cara kita menyelamatkan harta benda ala saya
Waktu anak Krakatau sedang batuk-batuk sedang, saya heboh cari-cari bahan-bahan tentang meletusnya si ibu Krakatau. Karena khawatir, saya mendesak keluarga mempersiapkan sesuatu jika anak Krakatau meletus. Mendesaknya tidak bilang “Ayo donk” tapi dengan cara dibicarakan terus setiap hari
Hahaha ….. dan terlaksana.
Saya masukin baju yang ringan-ringan dan kebutuhan pribadi ditas ransel. Beli biskuit, air mineral, sikat gigi, sabun, pembersih muka, pembalut, baju dingin, kaos kaki, alat sholat, KTP, HP, charger, bulpen (kali aja buat nulis), korek api. Harus dirombak beberapa kali untuk memilah mana yang penting banget. Setelah pas, saya taruh di samping tempat tidur dengan baju dingin diatas ransel dan sendal disampingnya.
Yang membuat saya tercenung soal majalah dan buku resep masakan saya. Banyak banget, tidak mungkin dibawa-bawa. Padahal “mereka” itu merupakan benda yang paling berharga. Tapi sudah ketemu solusinya, taruh di internet aja
cari masakan yang tenar, tradisional, saya paling suka, bagus fotonya dengan menggugah selera, ga aneh-aneh dan sudah pernah dicoba dengan rasa ok.
Kalau bapak saya setelah urusan pribadinya berlanjut urusan dokumen. Beliau memang dari dulu telah menempatkan dokumen disatu tas. Tas beratnya minta ampun. Gimana diajak “lari”. Setiap hari beliau bilang ke anak-anaknya dimana tempatnya dan yang paling penting tas tersebut harus diselamatkan.
Setiap malam baca doa banyak banget, pengaturan posisi tidur, setiap hari kolong tempat tidur disapu. Kali aja ga sempat menyelamatkan diri ke luar rumah, ngumpet di kolong tempat tidur.
Bersihin loteng atas, kali aja menyelamatkan diri ke sana
Rencananya sih mau bikin gerobak kecil untuk ngangkut semua tas tapi tidak jadi mahal bikinnya.
Sebenarnya rumah saya bisa dianggap tidak terjangkau sama tsunami karena cukup berada diketinggian. Tapi siapa tahu ya … cuma dikhawatirkan gempanya. Waktu Krakatau meletus tahun 1800-an, Bogor hanya merasakan gempa kecil dan terlihat di langit Jakarta ada sesuatu.
Tapi untungnya anak Krakatau ga lama sudah tenang lagi.
Ada satu lagi yang berhasil membujuk bapak saya mengansuransikan rumah. Cuma tahan 1 tahun dan tidak diperpanjang lagi. Akhirnya kita mah pasrah saja. Yang penting udah usaha.
Untuk kasus 9 SR, kita cuek nih …. lagian mau diapain lagi … baca petunjuk penyelamatan diri sudah tapi belum dipraktekkan.
Saya malah bingung bagaimana menyelamatkan diri dari kaca yang dekat sekali dengan tempat duduk. Rumah saya itu keamanannya berlapis, kalau gempanya terjadi malam-malam, kita sibuk nyari kunci dan buka pintu. Kalau lagi panik, grogi juga cari lubang kunci.
Sekarang tinggal berdoa …. “mudah-mudahan ga ada 9 SR”.
September 13th, 2007 — Kesehatan, Photo, Sosial, Story
Rabu kemarin, gempa melanda Bengkulu, Sumatra Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sekitarnya bahkan sampai negara tetangga. Pusat Gempa di Bengkulu dengan kekuatan 7.9 Skala Richter pada pukul 18.10 WIB. BMG memberikan peringatan tsunami tapi sudah dicabut.
Saat itu, saya sedang menonton siaran berita dari ANTV. Penyiar berita saat itu mengumumkan bahwa di studionya terasa guncangan. Saya lihat layar televisi bergerak tapi penyiarnya tetap siaran, tidak beranjak dari tempatnya.
Loyalitas terhadap pekerjaan dan pemirsanya … hebat ya … nyawa taruhannya. Dia terus siaran sampai gempa reda. Cukup lama juga.
Yang nonton aja panik lihat layar televisi bergerak tak tentu arahnya. Mukanya saya lihat ketakutan tapi “jalan” terus siarannya …
Saya sendiri ga terasa gempa tapi adik laki-laki saya terasa karena dia duduk di lantai. Kalau saya duduk dikursi. Hmm … biasanya terasa sih … tapi ga tahu kenapa tidak terasa.
Sepupu, suaminya, anak-anaknya dan ibu sepupu saya yang tinggal di kota Padang ketakutan sekali. Rabu, mati lampu. Karena sering gempa, mereka tidur diluar rumah.
Tadi pagi, 5 Pagi (Jum’at, 14/9/2007), saya nonton berita di MetroTV bahwa gunung Talang sudah gempa 400 kali. Saya harap ke mereka untuk pulang ke Silungkang. Kalau sampai Gunung Talang meletus, terus ada gempa besar dan tsunami mereka tidak bisa pulang ke Silungkang. Untuk lewat Silungkang harus melewati Solok (Gunung Talang).
Menurut keterangan sepupu saya, hari Jum’at sudah hidup lampu, rumahnya tidak ada yang rusak. Banyak saudara dari pihak suami yang tinggal di rumah mereka karena letaknya lebih tinggi. Bantuan sudah datang, sudah ada yang memberi instruksi cara menyelematkan diri dari Tsunami.
Menurut wawancara kemarin pagi di MetroTV dengan ahli geologi BPPT bahwa kita menunggu gempa kekuatan 9 Skala Richter. Bapak tersebut mengharapkan bahwa gempa yang terjadi saat ini dicicil sehingga tidak terjadi yang 9.
Tapi beliau tidak tahu apakah ini gempa cicilan atau nanti ada yang 9. Beliau tidak tahu kapan yang besarnya.
Tapi saya harap ga terjadi yang 9. Duh …
Gempa di Bengkulu dan Sumbar akan terjadi dalam 2 pekan dengan skala lebih dari 5, menurut BMG.
Video : CNN
News : Yahoo, Liputan6.com, Are We Ready for Another Tsunami
Photo : AFP, Reuters
An Indonesian girl kisses her cat near her collapsed house in Lais, Bengkulu, Sumatra island, Indonesia, Thursday, Sept. 13, 2007. Three powerful earthquakes jolted Indonesia in less than 24 hours, triggering tsunami warnings, damaging hundreds of houses and sending panicked residents fleeing to high ground. Rescuers feared some victims were trapped beneath the rubble. (AP Photo/Dita Alangkara).

An Indonesian rescue team removes a body from a damaged building in Padang of West Sumatra province September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Singgalang- Muhammad Fitrah (INDONESIA).

A motorist passes cracks in a damaged road at Air Besi in North Bengkulu, 13 September, a day after a massive 8.4 magnitude earthquake shook the region. Huge aftershocks rumbled across Indonesia’s Sumatra island on Thursday but officials said the damage from a massive earthquake that killed 10 people was not as bad as feared.(AFP/Adek Berry)

A mother holds her son as he is treated by a doctor at makeshift tent hospital in Bengkulu September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)

Hospital patients stay at a makeshift tent after an earthquake, in the Indonesian city of Bengkulu, September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)