Entries Tagged 'Story' ↓

Dilarang Pipis Di Lantai

Tanggal 22 September 2009, bertepatan lebaran ketiga 1430 H, saya, tante dan 3 temannya para wanita semua jalan-jalan ke kota Bogor. Saya berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan ke rumah tante dengan mengendarai motor dikemudikan oleh Bapak. Ups, kepagian sampainya :D. Rencananya ke stasiun Pasar Minggu Baru yang terletak di depan Komplek Kalibata Indah pukul 07.00 WIB. Yah sudah, saya main sama kucing dulu. Bulunya lebat dan halus, dengan warna abu-abu, putih dan kuning, badannya gemuk, hidungnya pesek, matanya ngantuk xixixixi seperti biasanya langsung manja ama saya dan gatallah tenggorokan … hmm belum juga hilang alerginya. Gpp deh, lumayan, jarang-jarang megang kucing tanpa larangan :D :D. Si puss keasyikan … ga tahan tenggorokan gatal, distop sayang-sayangnya …. :D. Kasian matanya memohon :(. Sebentar batuk dulu

Kurang lebih pukul 07.00 WIB, tante dan saya berangkat naik ojek ke stasiun Pasar Minggu Baru. Baru pertama kali saya jalan-jalan tanpa orang tua, adik-adik dan berkendaraan pribadi. Asyik kayaknya naik kendaraan umum, apalagi naik kereta api. Seumur hidup, ini yang kedua kalinya naik kereta api. Yang pertama waktu kerusuhan Semanggi, naik kereta api dari Tanah Abang ke Pasar Minggu, nyambung lagi naik bis ke Kampung Rambutan kemudian ke rumah di Bekasi. Waktu itu memang kacau balau.

Ongkos naik ojek Rp. 5.000. Ongkos kereta api AC Ekonomi Rp. 6.000. Kata petugas karcis, kereta api sampai di stasiun Pasar Minggu Baru setengah jam lagi. Ditawarkan kereta api ekonomi karena sebentar lagi ada yang sampai dan 2 kali kedatangan. Wah kita ga mau, udah pernah naik jenis Ekonomi non AC, kapok deh, kayak kumpulan ikan di tong gede kapal penangkap ikan. Masih lumayan naik bis. Gpp nunggu 30 menit sambil berjemur dibawah sinar matahari pagi. 2 karcis sudah ditangan. Kami melewati petugas karcis berikutnya dan menunjukkan karcis yang tadi dibeli. Suasana saat itu masih agak lengang. Bangku besi kira-kira ditempatin 2 sampai 4 orang. Ada penjual air mineral, permen.. biasalah jualan 1 paket yah … :D. Lantai conblock lumayan bersih, mungkin baru disapu dan masih jarang yang buang sampah sembarangan. Tong sampah banyak loh disana …

Kereta api ekonomi berlalu lalang, angin berhembus kencang setelah gerbong-gerbong melewati kami. Suaranya sangat khas …. saya senang mendengarnya. Lantai bergoncang sesaat. Suara kami hampir tak terdengar jika dia datang. Jadi kami stop obrolan sesaat sampai kereta berhenti . Setiap kedatangan, petugas memberitahu tujuan kereta api.

Setiap kereta api berhenti, saya melihat orang-orang nongkrong dipintu kereta. Raut wajah-wajah mereka beraneka ragam. Saat itu saya tidak melihat ada orang duduk di atas gerbong, semuanya didalam. Rata-rata tidak begitu padat saat itu.

30 menit berlalu, sedikit demi sedikit, orang-orang berdatangan dari segala usia. Tempat yang kami duduki hampir penuh. Dua tas yang ditaruh disamping badan, dipindahkan. Tas pertama yang isinya baju ganti saya taruh dipangkuan. Tas yang berisi makanan saya taruh di depan kaki.

Hmm …. kereta yang ditunggu tidak kunjung datang. Saya mulai mengeluh :(. Tanya ibu-ibu disamping, katanya ada masalah di Manggarai. Beliau bilang tadi ada pengumumannya. Wah, keasyikan ngobrol tidak mendengar pengumuman. 15 menit kemudian, saya mulai gelisah dan mengeluh. Sekarang mendengar baik-baik setiap pengumuman. Kata petugasnya kereta api yang akan saya naikin mengalami kerusakan. Dan akhirnya saudara-saudara sekalian… jam 9 pagi, orang-orang sudah banyak menunggu, kereta api pun datang. Wow penuh, sudah tidak ada tempat duduk. Berdirilah kita. Untung ACnya masih terasa. Teman-teman tante yang 3 orang naik kereta api AC ekonomi sesudah kami. Jadi kami sampai duluan di stasiun Bogor.

Kereta yang saya naiki buatan Jepang. Banyak sekali tulisan Jepang. Kondisinya masih bagus. Selain AC, ada juga kipas angin. Masih sepi dengan sampah. Tidak ada yang merokok. Pegangan tangan banyak sekali. Tidak ada pedagang yang menjajakan makanan. Banyak juga orang duduk2 di lantai.

Saya lupa di stasiun mana, tiba2 kereta kami diserbu banyak orang. Kata orang yang naik, kereta ekonomi jurusan Bogor mogok. Penuh deh, yang duduk dilantai, berdiri semua. Xixixixi kayak metromini atau kopaja saja. Tidak ada petugas karcis sampai ke Bogor. Kata tante biasanya ada petugas karcis, mungkin karena banyak operan dari yang mogok jadi ga jalan petugasnya. Karena banyak orang, udara menjadi panas. Dipasanglah kipas. Yang buat panjang juga pikirannya. Ada ibu hamil besar, kasihan. Sepertinya sudah berdiri cukup lama karena waktu saya naik, beliau sudah berdiri. Tapi beliau asyik2 aja, tapi kok kita yang repot “kok ga ada yang ngasih tempat duduk”

Jalannya kereta api terasa lambat. Sesekali kaca bergetar karena hempasan angin dari kereta api yang lewat dari arah sebaliknya. Karena saya memang jarang naik kereta api, saya tanya ke tante, “Memang kereta api jalannya begini yah ? Ga bisa ngebut ?”, hahaha. Kata tante, “Biasanya cepat sekali. Ga tahu kenapa jalannya lambat”. Setiap stasiun berhenti dan saat itu penumpang bertambah. Saya lihat ibu hamil itu, eitt dia udah dapat duduk. Waktu di stasiun Citayem, kami akhirnya dapat duduk.

Rasanya selama perjalanan saya bawel … dari soal penuhnya penumpang, jalan yang lambat, nanti turun lewat pintu mana, masih berapa stasiun lagi sampai di Bogor, teman2nya sudah sampai mana, jam berapa sekarang hahaha, ga ada pengumuman sudah sampai stasiun mana seperti di busway, karcis diapain, ga ada petugas karcis lewat, duh kayaknya udah panen di FarmTown dan FarmVillage … gdubrak ….

Sampai di stasiun Bogor, wow … yang turun dihantam sama yang naik. Pada teriak2 yang mau turun, “Yang turun dulu donk … gimana mau turun kalau diserbu dulu”. Nunggu agak sepi, kami baru turun. Banyak penjual tahu Sumedang, warna coklatnya menggiurkan. Sayang, saya enggan beli, padahal enak loh :D. Tapi cara bicara saya seperti ingin beli.

Terus terang saya paling takut kalau lewat jalan kereta api. Saya tengok kanan kiri, takut tiba2 ada kereta api lewat. Ada penjual klapertaart. Harganya Rp. 6.000. Beli 1 buah. Hmmm …. secara umum stasiun Bogor banyak sampah dan banyak orang – ya iyalah -. Bangunan tua dengan lantai kumuh. Eitt ada Hoka-hoka Bento … beli enggak … beli enggak …. menghitung nih …. akhirnya ga beli ahh. Ada penjual koran, sambil lewat saya lihat tidak ada majalah/koran yang saya suka.

Duduk dimana nih .. kita duduk di Dunkin Donut… di depan tukang ngamen. Suaranya bagus2 dengan alat musik hampir lengkap. Rupanya mereka ada dua group. Group yang pertama saat saya datang nyanyi lagi Indonesia, group kedua kebanyakan nyanyi irama latin.

Hmm.. sepertinya ga bagus duduk di Dunkin, karena ga pesan makanan. Kita pindah ke tempat penjual koran yang ga buka, kami duduk disitu. Sambil nunggu teman2 tante, kita FB-an dari HP, sekali2 narsis. Hahaha …. duh saya lupa cara mengoperasikan … gdubrak ….. :P. FB-annya sudah selesai karena Hpnya tiba2 mati …. hahahaha, payah nih HP. Sinyal dan batre full, mati wakakkkak. Sekali lagi kita lihat ke dalam Dunkin, lihat harga … beli ga yah … beli ga yah …. ga beli deh :D :D

Akhirnya yang ditunggu datang. Dikenalin sama tante 3 ce cantik2. Saya sebut saja si A, B dan C…. Kenalan sebentar, ngobrol .. bla .. bla .. kami keluar. Si C beli makanan siang di luar stasiun Bogor karena semua yang pergi bawa bekal dan minuman.

Berbekal peta dan data-data dari internet kami pergi ke Curug Luhur, tapi tetap salah naik angkot … hahahaha … menurut data yang diperoleh naik angkot 03 tapi kenapa naik angkot 02. Ikut aja deh, kebetulan saya ngekor aja karena ga pernah ke Bogor naik angkot, biasanya naik mobil pribadi. Lagipula abang angkot juga main iya aja sih ….

Karena salah naik angkot jadi kembali ke arah stasiun Bogor tapi turun yang dekat bunderan lambang salah satu provider Hp yaitu 3 (Three). Ongkos pulang pergi jadi Rp. 4.000,-. Saya mah asyik2 aja sih kalau nyasar … seru ….

Pas balik ke arah stasiun Bogor, kan lewat rumah besar, halamannya luas. Saya tanya ke tante, “Gila rumah gede amat dan luas …. rumah siapa nih?”. Kata tante, “Istana Batu Tulis” … hahahaha baru tau gw … norak yah … :hammer:, ga lama kemudian sampai pintu gerbang tertulis “Istana Batu Tulis”

Semenjak keluar dari stasiun Bogor, banyak sekali penjual asinan sayur dan buah serta toge goreng. Hmm … saya ga gitu suka asinan sayur dan buah …. mikir-mikir apakah orang rumah suka juga ? … daripada mubazir, ga usah beli. Dari tadi ga jadi beli terus yah … haha … Kalau toge goreng … xixixi lagi nyari2 tempat yang bersih … belum keliatan.

Akhirnya tanya ke para supir angkot ke curug luhur dikasih tahu naik angkot 03 dengan tulisan FATEN tapi bacanya PATEN … hahahahaha … Untungnya salah satu dari kami ada yang fasih bahasa sunda tapi dia orang Minangkabau. Katanya kalau salah jalan, ga mau bayar. Berhubung saya ga tahan mau beli makanan, ada gorengan … beli tempe, risol, cireng, dan bakwan. 1 buahnya Rp. 500,-. Soal cireng, saya baru tahu namanya saat itu, dikasih tahu salah satu teman tante. Biasanya bilang ke abang tukang gorengan, “Bang, yang putih2, kenyel habis yah ?”. Cireng paling favorit selain risol.

Hari itu terik sekali tapi hembusan angin terasa dingin. Di angkot, kami narsis dulu … gdubrak … dan ngobrol ngarul ngidul ….. waktu terasa lama … duh ga nyampe2 …. Saya sms ama teman yang tinggal di Bogor. Dia lagi pergi ke Bekasi.

Jam makan siang kelewat …. untung udah makan gorengan :D. Jadi sampai disana kira2 jam 14.30 atau 13.30 …. rupanya curug luhur itu terletak di jalan tikus ke Sukabumi …. jalan berkelok2 dan menanjak …. Curug Luhur melewati Curug Nangka. Di Curug Nangka ga macet tapi ke Curug Luhur macet, kami suruh turun karena macet. Yah, kami jalan kaki, padat sekali, yang jalan kaki aja susah lewat. Dengan susah payah akhirnya sampai. Ongkos angkotnya seorang Rp. 6.000,- Karcis masuk bayar seorang Rp. 15.000,-. Ada 17 kolam renang, 1 air terjun (curug) made in Tuhan dan 1 curug buatan manusia.

Dekat loket masuk, ada co baru pingsan … wah jarang2 gw lihat co pingsan …. Suara hingar bingar sudah terdengar. Dari jalanan sudah terlihat banyaknya manusia berenang. Wah padat sekali yah.

Pas masuk …. aje gile …. kacau 13. Turun ke bawah terjal, basah, untung ga licin, kolam renang banyak. Dimana2 ketemu orang dengan pakaian basah. Curugnya ? Masih dibawah lagi .. duh … eit ketemu …. kacau deh …. cari tempat untuk duduk di rumput, udah penuh. Kalau ada ga nyaman. Pas ketemu, ada orang dengan seenaknya tempat pipis. Tapi kami masih sempat foto2. Cuma 15 menit disana, kita pulang, tapi mampir dulu buat makan bekal yang dibawa. Numpang makan di tukang bakso. Setelah selesai. Tetap macet, susah jalan baik untuk motor, mobil dan pejalan kaki. Beli air mineral di Curug Luhur Rp. 4.000,-. Mahal yah biasanya kan Rp. 2.500,-

Pas keluar dari Curug, ada yang ketangkep ga beli karcis, denda Rp. 50.000,-. Yang punya negor, kalau dilihat rupa wajahnya adalah orang latin atau Spanyol/Portugis. Istrinya orang Ciapus.

Naik angkot ke BTM …. di BTM untuk sholat, yang ga sholat ke 21 untuk numpang pipis. Dan kekecewaan selanjutnya … lantainya banjir …. dan ada tulisan “DILARANG KENCING DI LANTAI” hahahaha….. Dalam sejarah gw, ke kamar mandi kecil di 21 baru kali ini nemu toiletnya parah. Suasana 21 saat itu banyak yang lesehan, abg semuanya, entah yang ditonton apa.

Sambil nunggu 3 orang ce sholat, yang berdua duduk2 di luar 21 dengan view sangat bagus. Akhirnya ada yang membuat hati kita senang. Viewnya gunung dan sebagian kota Bogor. 3 orang ce datang, narsis episode ke 3 dimulai. Ga enak hanya duduk2, foto sana dan sini seperti rumah sendiri, kami pesan minuman. 4 kopi hangat dan 1 capucinno dingin. Saya ga pernah minum 1 gelas kopi tapi karena harganya mahal2 dan agak mendingan harganya yah kopi :D

Kira-kira jam 4.30, kami memutuskan pergi dari sana. Tujuan selanjutnya, saya tidak tahu. Kemudian pada naik angkot lagi, rupanya ada yang ingin roti unyil venus. Dan salah informasi kembali terulang. Emang yah pak supir angkot gimana toh …. Kami diturunkan di roti mungil, padahal maunya ke roti unyil venus. Kami tanya, “Kok roti mungil sih??, maunya roti unyil”. Kata salah satu penumpang dan pak supir angkot, “roti unyil udah ganti nama, yah itu roti mungil”. Kami tanya, “Memangnya kenapa ganti nama?”. Kata mereka kembali, “Banyak yang palsu”

Walah dalah ….

Kami ga gitu percaya lagi …. salah satu dari kami tanya sama penjual kaki lima disana. Kata bapak tersebut, “Roti unyil itu disana. Ongkos angkotnya 1.000.” Kalau ga salah ingat, roti unyil venus di jalan Pajajaran, tidak jauh dari petunjuk arah Jagorawi.

Ada yang ngasih tahu, dekat … jalan kaki 300 meter, naik angkot aja. Eittt tunggu dulu, 300 meter ama mereka dengan 300 meter sesungguhnya bisa beda loh. 300 meter bisa juga 1 km. Memang benar 300 meternya jauhhhh deh hahahahaha …. Untung naik angkot setelah kami kompromi soal jarak tempuh yang suka salah. Naik angkotnya pake ngancem kalau salah lagi ga mau bayar .. wakakkkak…..

Pas sampai di roti unyil venus, hujan rintik2. Masuk … wow banyak orang, kayak ngantri sembako. Catet mau pesan roti rasa apa saja, ga tunggu lama … rupanya saudara2 sekalian roti habis … hahahha .. ada ibu-ibu marah2, “Bilang kek dari tadi kalau abis” … antrian pun bubar. Kami ga dapat roti tapi gpp saya udah pernah makan.

Hujan masih turun, saat itu malam telah hadir. Kami naik angkot ke arah stasiun yang sebelumnya tanya angkot nomor berapa. Sebelum naik, tanya dulu dengan embel2 “kalau salah ngasih tahu ga bayar, bang, awas loh” kata teman dengan logat sundanya.

Diangkot kami cerita2 seru soal kasus2 di negeri ini. Jadi perjalanan ga gitu terasa lama. Lama kelamaan baru nyadar kok ga nyampe2. Padahal dari BTM ke roti unyil sebentar, tinggal lurus. kenapa ke stasiun Bogor lama amat.

Akhirnya sampai juga, buru-buru jalannya. Saya ga tahu kenapa, ngikut aja. Saat itu jam menunjukkan 7 kurang 10 malam. Kami pesan karcis, saya bingung karena paling depan. Maklum belum pernah ngantri karcis kereta. “Berapa orang?”, kata penjaga loket. “Lima orang,” kata saya. “Jadi 27.500 rupiah,” kata penjaga loket. Karena kepala pusing sebelah semenjak di Curug, jadi saya bilang ke teman2, “Masing-masing, 1 karcis 27.500 rupiah”. Hahaha … Kata penjaga loket yang lain, “Ups.. boleh 1 orang Rp. 27.500,-”. Dan saya ga dengar lagi apa kata tuh bapak, sibuk nahan sakit kepala.

Dodolnya, saya ga nyedian uang karcis .. jadi siapa aja yang keluarin uang duluan, nanti dibagi rata waktu di kereta. Jam berangkat kereta pukul 7.10 malam, jurusan Manggarai – Bogor.

Saat itu ada dua kereta api AC ekonomi. Satu jurusan Tanah Abang – Bogor, satu lagi jurusan Manggarai – Bogor.

Kami salah naik kereta, karcis jurusan Manggarai - Bogor, kereta yang dinaikin jurusan Tanah Abang – Bogor. Tapi kata orang2 disana, sama aja sih, tapi kan tidak sesuai sama karcis. Yah sudah, kami turun lagi.

Naik turun kereta seperti orang kalang kabut. Menurut keterangan penjaga loket, kereta akan berangkat pukul 7.10 malam. Jadi harus buru-buru naik dan cari tempat duduk. Gerbong yang tidak ada tangganya dinaikin, kan tinggi tuh … kacau deh para ce … Kalau saya cari yang ada tangganya, karena dengkul sakit naik tangga di Curug tadi. Padahal teman2 kakinya pada sakit semua. Nekad …..

Pas turun .. ga perhatiin … saya turun pake tangga, ga tahu yang lain, karena kalang kabut semuanya … hahahaha … Tiba-tiba ada orang yang teriak, ada kereta datang … kacau nih, kami berdiri antara rel … Kalau kereta lewat kan anginnya kenceng, nanti gw terbang lagi …. Saya langsung panik … saya buru-buru nyembrang ke arah dalam stasiun, loncat, nabrak bapak2 gendong anak, orang2 pada teriak juga … hahahaha … “maaf nih … kereta mau datang … takut ketabrak ….,” kata saya. Duh selamat sampai di tempat aman …. norak yah :hammer:

Saya paling takut dekat rel dan kereta api …. dan juga takut naik kereta api.

Sekarang naik kereta api Manggarai – Bogor, naiknya juga buru-buru, dari gerbong belakang sampai mendekati depan kereta api, cari bangku kosong. Akhirnya dapat duduk ….

2 kali tukang ngamen datang, suaranya bagus-bagus …. Kepala tetap pusing … ditawarin sih obat pusing tapi cocoknya ama obat Panadol merah. Lihat sendal jepit model baru …. - baru lihat kali yah saya – diujung kaki cuma pentolan aja -

Setelah hampir 1 jam menunggu dalam kegelisahan, dan setiap saat dengerin petugas hallo-hallonya bilang, “kereta api akan berangkat, kereta terakhir” - walah dari tadi ga berangkat2, bilangnya terakhir melulu … nunggu penuh dulu yah :hammer: - 1 jam lebih molor dari jadwal .. payah nih – Akhirnya berangkat juga …. dan tetap lelet jalannya.

Tidak lama kemudian, pemeriksaan karcis. Sayangnya, petunjuk nama stasiun tidak terlihat dari dalam, kacanya terlalu gelap. Langsung saya ama tante bilang, “Aturannya kayak di busway, pemberitahuan mendekati stasiun anu …. dan ada lampu yang jalan2 di dinding kereta api. Pokoknya kayak di busway. Setiap stasiun, palang nama lokasi dikasih lampu dan keliatan dari dalam gerbong.”

Ga lama ngomong gitu, ada suara orang memberitahukan sudah sampai stasiun mana lewat pengeras suara. Wah dengar aja ….. nguping yah :P

Jam 9 malam sampailah di stasiun Pasar Minggu Baru, mampir di Alfa beli Panadol Merah. Pas sampai di rumah tante, obat ga dimakan karena udah sembuh wakakkakak …. makan, cuci muka, dll

Besok paginya, dijemput bapak dan klapertaartnya baru dimakan waktu sampai di rumah. Enak banget …. rugi ga beli banyak :(

Mau lagi pergi model seperti itu ? Mau donk …. seru lagi … hahaha ….

Coklat Monggo

Saya sudah coba coklat Monggo made in Yogyakarta, Indonesia, sekitar 2 bulan yang lalu. Belinya di Gelael Tebet. Diletakkan di dekat Kasir. Kita harus jongkok untuk mengambil coklat Monggo diantara coklat yang kita sudah kenal asal luar negeri.

Ada beberapa rasa, tapi saya pilih yang harganya Rp. 11.000-an. Kebetulan uang agak terbatas. Kalau agak besar sekitar Rp. 22.000,-.

Yang harganya Rp. 11.000-an, enak tapi agak meninggalkan jejak pahit sedikit diujung lidah paling dalam. Saat itu udara Jakarta sangat luar biasa panas, coklatnya jadi agak lumer. Memang dibungkusan sudah dikatakan “Harus di udara dingin”.

Kemasan dan warnanya bagus. Kebetulan saya suka warna coklat. Di sana tidak bertemu bungkusan coklat yang ada gambar semarnya. Sayangnya tidak ada label HALAL. Padahal penting banget.

Saya tawarkan ke teman yang waktu itu se-taksi. Dilihat tidak ada label HALALnya dan BPOM, tidak jadi makan. Yah sudah, dengan keyakinan saya makan aja. Hehehehe

Saya harap sih, untuk kemasan yang akan datang sudah ada cap HALAL dan BPOM. Masalahnya kalau sudah ada kedua tanda itu, saya bakalan beli coklat Monggo lagi.

coklat monggo

Untungnya Ada Musibah

Tadi pagi, saya akhirnya pergi ke Situ Gintung.

Sebenarnya mau kesana udah lama, tapi karena dilarang sama yang ditelevisi karena akan merepotkan orang sana dan juga ga etis aja, kok orang kena musibah jadi tontonan. Lagipula saya paling bete kalau macet, apalagi macet total. Kemudian tempat parkir juga rada susah, takut keamanan tidak terjamin.

Diantar sama Bapak, kita ke Danaunya, Bayarnya Rp. 5.000 per orang. Bapak saya menunggu di luar danau. Saya disambut oleh 4 atau 5 anjing yang tak terurus. Melangkah dari pintu masuk kita, kanan dan kiri ada bangunan. Kita sudah bisa melihat tempat yang luas, ada arena outbound, pohon tinggi, lebat dan jaraknya berdekatan. Di sana juga tersedia tiang untuk menaruh burung, mungkin menyediakan perlombaan untuk burung kali ya….

Ada tempat untuk mencuci tangan dan ada tempelen Lifebouy. Agak jauh, ada ibu-ibu dan beberapa perempuan sedang membereskan perabotan jualannya. Saya tidak bertanya kenapa pagi-pagi sudah membereskan dagangan. Hmm … sepertinya tidak usah ditanya karena hari ini Senin. Memang suasana sepi, cuma terdengar suara mesin pemotong rumput. Di pinggir danau yang sudah agak mengering, ada 4 orang bapak duduk-duduk sambil bergurau. Sepertinya asyik ..

Di beberapa tempat ada air berwarna coklat yang tingginya dangkal. Banyak kerambah ikan berantakan. Dasar danau isinya semuanya tanah. Ada spanduk bertuliskan “Selamatkan Situ Gintung”. Danau ini cukup luas yah, ada yang sampai kekuburan. Kalau lewat kuburan, tidak bayar :)

Karena sepi dan rata-rata isinya para pria, saya tidak berani sampai ke tempat yang jebol dan matahari semakin tinggi. Saya memutuskan kembali.

Duh, anjingnya ditengah jalan. Saya takut sama anjing. Saya jalan pelan-pelan, menunggu anjing keluar dari jalan beraspal. Setelah dianggap cukup aman, saya berjalan pelan menuju pintu gerbang sambil sedikit melirik ke kumpulan anjing. Mereka hanya melihat saya sebentar dan saya pun mempercepat jalan.

Perjalanan dilanjutkan ke tempat penampungan. Rupanya saya pernah lewat tempat itu. Di samping … hmm kalau ga salah ingat di samping Fakultas Psikologi. CMIIW.

Saya cuma lihat dari seberang, cuma diam 5 menit kemudian pulang. Kalau saya pikir, memang benar jaraknya jauh dari tempat kejadian.

Yang kagetnya, wek .. jalannya udah mulus, aspalnya masih berwarna hitam gelap, membuktikan bahwa baru saja diaspal. Banyak orang membersihkan got yang tidak terlalu tinggi.

Hahaha ……… bersih-bersih ni yeee…. mentang-mentang banyak pejabat lewat :p

Waktu saya lewat situ tahun kemarin, beberapa kali, jalannya bolong-bolong, gotnya banyak sampah dan kalau hujan banjir habis.

Untung ada musibah yah, coba kalau ga ada musibah, tuh jalanan masih rusak dan gotnya masih banyak sampah :p

Pas lewat di IAIN, tidak jauh dari gedung rumah sakit, ada mobil untuk mengaspal jalan … jauh amat markir :p

Untuk korban Situ Gintung semoga tabah yah menghadapi musibah ini.

Contreng dan Setera

Dua kata itu sering menjadi bahan ledekan atau gurauan.

Hahahaha, saya memang sering sekali menggunakan dua kata tersebut.

Hmmm …… kalau contreng itu sudah saya kenal dari kecil. Entahlah dari mana, apakah itu bahasa Betawi ? Saya tidak tahu. Biasanya orang lain menyebutkan Centang. Kocak juga kata “Centang”, tidak jauh-jauh dari kata Centangan, yang biasa datang di jempol kaki :D

Saya lihat kata contreng itu di Pamulang. Banyak sekali spanduk kampanye yang bilang, “Contreng ini” hahahaha ….

Kalau SETERA itu, dulu sekali memang saya suka menyebutkan pengganti kata “TERSERAH”. Tanpa sadar sih ngomongnya.

Sadarnya waktu tante minta pengulangan kata “setera”, beliau pun meralat dan saya pun bingung ……… wwakakkakak. Masalahnya saya merasa ngomong terserah … ups salah ya .. tanpa sadar ngomong SETERA……..hahahaha

Tahun kemarin saya mendengar Patro (CMIIW) ……….. hmm siapa ya anggota grup lawak Patrio yang paling lantah menggunakan kacamata ? Saya dengar, dia menggunakan kata tesera ……. lucu juga ….. hahaha

Akhirnya saya tidak sendirian untuk mengucapkan kata “TESERA”

TQ juga untuk waktu SD yang menghilangkan satu huruf akhir namaku yaitu Azza menjadi Aza. Ngetrend boo … :D

Bikin NPWP

Akhirnya saya bikin NPWP dengan terpaksa, dibujuk-bujuk sama adik dan bapak. Yang paling getol si bapak. Dengan alasan supaya lebih mudah kalau buka usaha, perintah dari pemerintah dan bisa gratis fiskal -alah kapan punya duitnya ke luar negeri- :(

Alhasilnya ke kantor Pajak Depok dengan langkah berat di pagi hari. Jauh juga dari rumah :D

Gpp deh lihat-lihat pemandangan. Keliatan gunung dari Curug. Lihat yang hijau-hijau :D

Sesampai di kantor Pajak Depok, parkir motor, masuk, ambil nomor antrian dan duduk. Duh, ngantuk. Tidur dulu deh.. tidur ayam … lumayan nunggu antrian nomor 62, pake AC, jadi adem.

Kata bapak, dulu sekali, 28 tahun yang lalu, ngantri di kantor pajak agak lama kalau ga pake uang sogok. Kalau ga sogok bisa antri dari pagi sampai jam 5 sore. Kalau pake uang sogok, langsung datang, tidak lama kemudian selesai deh.

Manajemen pajak dulu tidak kayak sekarang, udah bayar tapi tetap aja ditagih pake denda. Padahal sudah ditunjukin bukti pembayaran. Yah, jadi perang mulut deh. Karena ada buktinya dan mereka udah ngubek-ngubek data-data mereka, and ketemu deh kemudian malu sendiri :p

Karena kesal, bapak saya tidak melanjutkan pembayaran pajaknya. Percuma !!! kata beliau. Sebagai warga negara yang baik sudah memenuhi kewajiban tapi kok dipersulit kayak gitu. Pokoknya korupsinya gede banget deh … :(

Trauma yang panjang akhirnya berhenti setelah mendengar workshop pajak spesial sunset policy di tempat gedung kampung saya.

Tapi bikin NPWPnya bukan buat beliau, buat anaknya …… gedubrak deh …

Menurut orang pajak, kalau ingin diaktifkan namanya bisa tapi harus bayar denda per bulan 100 ribu rupiah. Bayangkan 100 ribu dikali 12 bulan dikali 24 tahun. Wowww … ga jadi deh.

Pajak juga dikenakan ke orang mati, katanya hartanya masih ada, namanya masih ada sampai si ahli waris balik nama …. wakkakakak …. orang mati aja kena pajak ……. wakkakakakk.

Kembali ke kantor pajak. Setelah sampai nomor antrian, menyerahkan form isian yang adik saya ambil dari internet (di kantor pajak ada form tapi jadi lama di sana), ditanyain sebentar bla .. blaa …. terus dikasih surat kecil untuk kembali hari Jum’at. Pulang deh.

Kata adik sih ga repot ngisi form pajak setiap bulannya. Duh, saya ga peduli deh… ga penting saya lebih suka bayar zakat daripada bayar pajak !!

Tulisan Jelek

Lama-lama saya mengalami kesulitan menulis di kertas. Sudah 15 tahun-an jarang menulis, semakin kesini tulisan saya tambah parah, kurang jelas terbaca, bahkan semakin mendekati akhir kata tinggal garis lurus …… wakakakak

Tadi, ibu minta saya menulis 6 kata di amplop dan hasilnya diprotes sama ibu. Duh, padahal saya nulisnya udah susah payah dan kaku …

Pernah saya blog walking, rupanya tulisan jelek bukan saya saja yang mengalaminya. Menurut blogger tersebut karena kita sudah tidak terbiasa lagi menulis di kertas. Waktu kita habis untuk menarikan jari-jari di atas keyboard.

Jadi waktu disuruh nulis, hasilnya jelek banget dan ingin cepat-cepat selesai …….

:(

Setelah 20 tahun

Waktu lebaran haji beberapa hari yang lalu, masjid dekat rumah banyak sekali menerima sapi yaitu 11 ekor. Menurut laporan yang disampaikan pengurus masjid, setelah 20 tahun berdiri yang “tersengal-sengal berjalan”, baru kali ini ada sapi 11 ekor di halaman masjid, biasanya kalau tidak 1 ya 2 ekor.

Wow, prestasi yang luar biasa menurut saya. Jarang-jarang lho ada sapi 11 ekor saya lihat saat hari raya qurban, kebanyakannya kambing.

Sebelum hari raya, malam harinya salah satu pengurus masjid yang kebetulan tetangga saya, membagikan kupon qurban. Bingung kita menerimanya. Tapi tidak apa-apa, nanti pasti bertemu orang yang tepat.

Sewaktu saya bertemu tetangga yang lain RT dan blok mereka juga dapat kupon. Menurut keterangan pengurus masjid yang disampaikan sebelum sholat Idul Adha, daging qurban sangat cukup.

Sebenarnya memang sapi itu harus banyak bukan satu atau dua ekor terus setiap tahun. Ini bisa dilihat kondisi ekonomi komplek saya yaitu rumahnya besar-besar, mobil mewah-mewah, kerjaan penghuninya rata-rata OK semua, rata-rata punya komputer canggih dan bahkan mampu sewa internet speedy limited, punya motor banyak, satu orang bisa punya 2 atau 3 handphone model terkini, ada yang pake esia, flexi dan lain-lain. Nah, kurang apa hayooo ….

Masjidnya juga lambat sekali pembangunannya. Sejak saya SD kelas 6 (1986) belum tinggal di komplek tersebut sampai tahun 2007, setelah 4.5 tahun saya tinggal, nambahnya sedikit doang malah bisa dikatakan tidak “bergerak”. Baru penggantian pengurus, pembangunan masjid itu sangat pesat sekali. Saya tidak tahu salahnya dimana.

Suksesnya pengurus masjid mengumpulkan 11 ekor sapi adalah kerja keras semua pihak. Kemungkinan hal itu terjadi karena aktifnya pengurus untuk menawarkan berkorban di masjid dekat rumah, tingkat kepercayaan masyarakat komplek kepada pengurus masjid, pengurus masjid memberitahukan bahwa berkorban dengan Rp. 1.100.000 untuk 1 orang bisa mendapatkan qurban sapi, tidak harus beli 1 sapi untuk 1 orang, bisa jadi kesadaran dan pemahaman umat Islam di komplek tersebut sudah meningkat.

Kalau di luar komplek ada program tabungan qurban. Jadi mencicil Rp. 85.000 setiap bulannya sampai seharga Rp. 1.020.000 untuk sapi. Jika harga sapi sewaktu mendekati hari Idul Adha naik, peserta tabungan harus siap menambah koceknya. Tidak seberapa kok nambahnya ;)

Sedangkan di organisasi kampung saya, 14 ekor sapi qurban setiap tahun adalah sesuatu biasa. Sewaktu saya dengar tahun kemarin, terkaget-kaget. Begitu juga teman saya di Minangkabau, 14 ekor sapi dan hanya 2 ekor kambing.

Sebenarnya seru juga lho kita ikut berqurban, suasananya itu lho - apa ya susah untuk dijelaskan -, bisa bertemu sama tetangga, bisa bantu orang, melihat orang motong-motong daging, bisa lihat daging sudah dikuliti masih bergerak, juga terharu melihat sapi dan kambing dipotong (duh kasihan), bisa ngecengen sapi dan kambing, bisa foto-foto dan masih banyak lagi keseruannya.

Masuk Sekolah Jam 6.30 … OMG

Kata pemerintah DKI Jakarta, anak sekolah masuknya jam 6.30 WIB. Katanya untuk mengurangi kemacetan. Di 5 wilayah kota DKI Jakarta, jam masuk kantor berbeda. Misalnya Jakarta Selatan masuk kantornya jam 9 pagi, Jakarta Utara sekitar jam 7 (CMIIW).

Duh, kalau saya saat ini masih sekolah, rumah saya di pinggir Jakarta, bangun tidurnya itu loh … susah banget.

Waktu SMP kelas 3, saya pernah pulang pergi Tebet Timur - Bekasi Timur. Bapak saya sudah beli rumah di Bekasi. Karena nanggung sekolahnya, ribet ngurusin kepindahan sekolah …. ya tetap di sekolah di sana. Bangun tidur paling telat jam 4, paling cepat jam 3, itupun harus buru-buru makan, buru-buru mandi, buru-buru pakai baju.

Bangunnya itu, harus digedor pintunya. Itupun ga langsung bangun, pake ngulet dulu, bilang “masih ngantuk”, lihat jam, bilang “ah, masih jam 3 (jam 4)”. Pake nungging dulu, kepala dibenamkan dibantal, nah itu terserah apakah saya melanjutkan rebahan lagi atau melihat jam berjalan dengan cepat.

Kalau ibuku sudah teriak, nah baru saya benar-benar bangun dengan malas.

Semua serba cepat. Jam 4.30 harus sudah berangkat. Kejar bis, jarang dapat duduk, jadi ga bisa melanjutkan tidur. Sampai sekolah jam 6.30, juga ga bisa tidur - malu ah -. Paling beruntung bareng sama bapak naik motor. Wuihh, Kali Malang macet.

Jam 10 laper. Karena saya kelas 3 berarti pulang sekolahnya jam 2 atau jam 3. Naik bis juga, bisa lewat Blok M atau Cawang atau Kampung Melayu. Sampai di rumah jam 5 sore. Kalau bareng sama bapak saya bisa jam 7 malam sampai di rumah ….. ya saya jadi preman pasar dulu.

Mandi, makan, belajar, bobo jam 9 malam. Sebelumnya setrika baju sekolah. Begitu seterusnya. Cape banget. Alhasil, pelajaran saya menurun. Ga jadi deh masuk SMA 8.

Nah, kalau masuk sekolahnya jam 6.30, berarti dari rumah itu bisa jam 4 subuh.

Solusinya adalah kost dekat sekolah, atau nginap di rumah saudara yang dekat sekolah atau pilih sekolahan dekat rumah, ga peduli kualitasnya buruk atau nginap di sekolah :( …. wakakakakakak.

Kalau soal macet bisa diganti Trans Jakarta, dengan monorel. Kan yang bikin tambah super macet adalah Trans Jakarta :P.

Atau gini aja, bikin mobil bisa terbang seperti batman atau film-film ruang angkasa dan bisa menipis juga, setipis sepeda yang punya kaca dan terlindungi.

Diantara 2 Pria Ganteng

Pestablogger 2008 sudah berakhir kemarin, 22 November 2008. PB2008 merupakan keikutsertaan saya untuk kedua kalinya. Kemarin, saya menemani saudara. Juga ketemu sama Harry, istrinya dan anaknya. Ketemu juga dengan teman lama yang tahun kemarin ikut juga.

Suasananya lebih ramai daripada yang dulu. Menurut informasi yang datang 700 orang ditambah 5 orang asing yang sudah puas ngiter-ngiter Bali sampai dengan Jakarta.

Yang sekarang, lebih banyak doorprice, lebih banyak stand, lebih banyak yang gratisan, dan makanan lebih bagus yaitu menggunakan kotak, jadi semua kebagian. Saya tidak memperhatikan kotak makanannya. Waktu saya bawa pulang kotak makanan kecil tersebut, ibu bilang bahwa catering dari Titiek Puspa. Saya cuma lihat Puspa saja sih pas waktu makan siang.

Kebanyakan yang datang para pria …. hmm atau 50 : 50 ya … tapi yang saya perhatikan sih memang kebanyakan pria.

Yang paling menarik ada 2 cowok ganteng. Berdua orang itu selalu memperhatikan dari kami dari atas. Berdua orang itu sudah ada sebelum para tamu datang. Walaupun mereka berdiri terpisah, berdua cowok itu selalu menebarkan senyum kehangatan. Senyum Indonesia.

Berdua orang itu menggunakan baju kebesaran barat dan topi Indonesia. Suatu perpaduan yang sempurna. Dibaju mereka tersemat tanda jasa.

Sampai selesai acara, 2 cowok itu tetap setia berdiri di tempatnya dan masih menebarkan senyum, sampai orang tak ada lagi, sampai lampu-lampu padam dan ruangan tak ber-AC.

Semoga 2 cowok paling ganteng saat itu, menikmati meriahnya pestablogger 2008.

Hmm … ketemu lagi ga ya tahun depan ;)

Sssstttt …….. siapakah mereka ? ;)

Anak AC

Pernah dengar percakapan antara anak-anak bocah dan remaja soal AC ?

Wekkk …. duh “lagu”nya itu lho bikin saya empet. Bukannya saya sirik … tapi empet saya dengernya.

Percakapannya kayak gini. Saya misalkan dengan A, B, C dan seterusnya.

Pada saat cuaca super panas di Pulau Jawa.
A : Di rumah loe ada AC ? (sambil kipas-kipas buku dan bersuara sombong)
B : Enggak ada.
A : Kasihan donk kepanasan. Gw punya donk. (dengan raut wajah sombong)
C : Enak lagi punya AC. Gw kalau tidur ga pake AC engga deh …
A : B, lo minta beliin AC aja sama ortu. Masak hari gini ga punya AC. Miskin amat !!

Raut wajah B sedih.

C : Adik saya aja minta dibelin AC untuk kamarnya. Dan itu harus dibeliin !!.

B hanya bengong, karena dia tahu bagaimana keadaan keluarga si C. Suka sering besar pasak daripada tiang.

C : Kalau musim hujan, gw tetap pasang AC.

Memang sah-sah saja punya AC di rumah jika bisa bayar listrik, memberi makanan penuh gizi kepada anak-anaknya, bisa membiayai uang sekolah anak, bisa memberi sandang tapi dengan catatan tidak berhutang. Apalagi zaman sekarang susah, kita harus mengikat ikat pinggang sekeras mungkin.

Tapi jika si anak dari kecil selalu hidupnya tergantung dengan AC membuat dia menjadi pongah, merajuk, pemalas, selalu mengeluh (sebentar-sebentar bilang panas padahal ga panas) bahkan bisa memaksa kehendaknya, bikin susah orang jika menginap.

Kalau orang tuanya bisa keras untuk menolak dan memberi pengertian kepada anaknya sih tidak apa-apa, bagaimana kalau tidak. Kadang-kadang orang tua juga memberi hati kepada kemauan si anak dengan alasan : kasihan nanti kepanasan, keringat buntek, ga bisa tidur dan lain-lain.

Walah …. bagaimana dengan orang dulu, mereka belum mengenal AC, cukup kipas-kipas, buka jendela, dan masih banyak lagi cara untuk menghilangkan panas. Kreatif donk ….

Apakah generasi kita ke depan adalah generasi lebih manja ? Kita lihat saja nanti .. sekarang udah ada benih tuh .. satu persatu sudah tumbuh :(

Suara Itu ….

Sepertinya lingkungan rumah saya yang dulu di Bekasi rada-rada deh …

Pernah, saya terbangun karena lolongan anjing sekitar jam 2 malam. Suaranya berisik sekali. Lama kemudian, ada lagi suara anjing yang ke 2. Malam itu jadi ramai sekali.

Mula-mula sih saya tenang aja, tapi karena terlalu lama lolongan anjing, saya jadi ingat kata orang kalau anjing melolong diwaktu malam hari berarti ada setan lewat. Nah … lho ada setan … langsung saya baca semua surat di Al Qur’an yang saya ingat sama ayat Kursi sambil tutup kuping pake bantal. Walaupun ga mempan telinga ditutup sama bantal … ya lumayanlah ga terlalu berisik. Akhirnya saya tertidur.

Besok malamnya, saya terbangun lagi sekitar jam 1.30 karena lolongan anjing juga. Dan saya juga melakukan bacaan yang sama plus tambah keringat dingin.

Besoknya lagi, terbangun jam 12.30, sama juga karena lolongan anjing. Anjingnya tambah 1 lagi, jadi 3 … sepertinya dia bawa teman-temannya. Lolongan anjingnya menyayat hati, ada yang seperti serigala.

Duh, saya ingin teriak dan keluar dari kamar yang kebetulan ada dilantai atas. Ingin bilang ke mereka ‘Apakah kalian ga bisa DIAM … BERISIK tahu ….!!! Gw besok kerja, bangun pagi-pagi … 3 hari gw kurang tidur!!!’ Tapi saya urungkan karena ketakutan saya lebih besar.

Besok malamnya lagi, kebetulan saya bangun jam 11.58 malam. Anjing tidak melolong. Saya lihat jam menunggu waktu jam 12.00 malam tepat. Apakah mereka akan melolong. Saya menunggu berdebar-debar. Dan benar tepat jam 12.00 malam, mulai para anjing melolong ……….. gw takut …. ramai sekali … Saya lihat adik saya yang tidur sekamar tidak terbangun, kenapa ga pada bangun seisi rumah ? Biasanya bapak saya sensitif nih soal keberisikan.

Besoknya lagi, bangun jam 11.55, sama kejadian yang diatas. Tepat jam 12.00, mulai ramai lah mereka. Agak lama, akhirnya terdengar suara ayam jantan berkokok … duh alhamdulillah … akhirnya ada malaikat datang. Para anjing diam sebentar kemudian melolong lagi dan ayam berkokok semakin kencang … malam itu semakin ramai saja. Akhirnya saya tertidur.

Kurang lebih semingguan begitu saja … duh saya benar2 ngantuk … dan ingin tidur pulas.

Waktu sarapan saya tanya ke orang tua dan adik-adik, apakah terbangun malam hari karena lolongan anjing. Kata mereka TIDAK. Malah mereka bilang, cuma perasaan saya saja atau saya penakut atau mimpi kali.

Duh, mimpi dalam seminggu ya … engga lah !!! … saya sudah pake acara cubit pipi segala, suerr deh memang kejadian benaran.

Saya tanya, apakah ada tetangga yang punya anjing ? Kata ortu, ada tetangga belakang, baru seminggu-an mereka punya anjing. Katanya anjing-anjingnya lucu-lucu. Punya dua ekor.

Kebetulan saya sekamar dengan adik dan dia juga ga percanya jadi saya janji untuk membangunkan dia malam hari jika anjing melolong.

Malamnya, saya terbangun karena lolongan anjing, saya bangunkan adik. Adik saya berani nih ngintip dari jendela, ga keliatan ada anjing di jalan. Akhirnya kita keluar kamar, di teras atas tetap tidak terlihat anjingnya tapi suara lolongan masih terdengar.

Karena tetap tidak terlihat, jadi kami ambil kesimpulan, para anjing ada di jalanan gang yang dari posisi kita ga keliatan.

Kita berdua sebenarnya ingin teriak “BERISIK” tapi ga jadi karena pertimbangan nanti ngebangunin tetangga terus nanti malah setannya pada marah. Kita ga lama sih berada di luar karena sudah takut dan tidak lihat anjingnya. Kalau mau turun ke bawah dan bangunin ortu, ga berani. Kalau saya pribadi ingin cepat-cepat masukke kamar karena saya merasa dibelakang saya ada sesuatu deh …..

Dan akhirnya kita masuk dan saya bilang sambil bisik-bisik, “Udah semingguan tuh kayak gitu, percayakan ….” dan adik saya bilang, “Kok baru sekarang bilangnya”

Dan kita pun tidur, sebelumnya baca segala macam doa dan ayat kursi.

Dan untungnya, ga lama kemudian, saya nginap sebulanan lebih di rumah tante di Jakarta. Jadi ga dengar lagi suara lolongan anjing.

Setelah saya balik ke rumah, tanya ke ortu soal anjing tetangga, kata beliau, anjingnya sudah dikasih ke orang. Tapi tetap sampai sekarang ortu ga percaya soal lolongan anjing.

Duh, akhirnya saya bisa tidur nyenyak juga …

Salah Bantal

“Salah bantal” alias leher tegang selama berjam-jam saat tidur, sakit juga ya …..

Baru ngerasain Senin pagi (14/4/08), waktu bangun …. duh …. ga bisa diangkat kepalanya. Pelan-pelan tapi pasti akhirnya keangkat juga nih kepala.

Karena menganggu aktivitas dan sakit banget, dengan cepat saya minta diantar ke tukang urut. Tukang urut pertama ga ada di rumahnya. Jadi kita ke tukang urut ke dua. Kalau bapak sih ga rekomendasikan yang kedua, tapi gimana ya … saya ga tahu obatnya dan baru kali ini kena “salah bantal”. Saya juga ga mau diurut karena ga suka diurut.

Urutan pertama, membuat leher saya tambah sakit. Kata tukang urutnya kembali saja sore hari, karena belum selesai. Tidak sampai sore, siangnya saya kembali lagi karena sakitnya tambah menjadi-jadi. Katanya memang sakit tapi nanti beberapa hari sembuh kok. Beliau bilang, jangan lupa kasih koyo yang putih.

Glekk … duh …. pake koyo … hiiik hikkk, saya kenalnya koyo cabe. Dulu, pernah pake koyo cabe, ga sampai 10 menit, langsung dilepas, panaaasss rek … dan ngelepasinya harus menahan sakit karena kecabut juga bulu-bulu halus.

Ke toko obat beli koyo, nah di toko obat ditawarin koyo dari tulang macan (akhirnya tahu di rumah). Bapaknya ngasih tahu cara menggunakan koyo tersebut. Saya setuju untuk menggunakannya. Pokoknya apa aja deh buat sembuhin leher saya.

Sampai di rumah, saya baca, duh dari tulang macan. Kan saya pecinta the big cat and small cat. Yang membuat saya terheran-heran dan ketawa geli, bahan-bahan yang digunakan ga sesuai sama judul koyonya ! Ga ada tulisan dari tulang macan malah ada kata dari 3 macam ular. Bahasa tulisannya campuran bahasa Indonesia tempo dulu dan sekarang.

Bahan obatnya dibikinnja dari 36 daon-daonan, 75 matjem obat akar-akaran jang berfaedah, 5 matjem minyak, 3 matjem uler, lantas dimasak dan kerdjaken dalem tempo 3 hari 3 malem baru siap dan dijadilah ini obat (Koyo).

Saya panggang nih, tapi sayang nempelnya ga lama, katanya kulit saya berkeringat. Tapi boros ya .. kalau ga nempel, harus ke api untuk dipanggang. Saya saja dalam 30 menit sudah 5 kali koyonya dipanggang.

Akhirnya beli salonpas. Salonpas ga panas, padahal 3 lembar ditempel ke leher … 2 jam kemudian dicabut. Waktu tidur malam hari, saya pasang lagi salonpas, akhirnya panas juga tapi saya ga bisa tidur. Karena ga bisa tidur, jam 3 malam saya buka saja salonpasnya, akhirnya bisa tidur juga walaupun sebentar.

Pagi harinya, saya ga bisa buka mulut, susah nelan, susah makan dan minum, leher dan pundak sebelah kiri tambah sakit, malah sakitnya sampai ke kepala. Saya juga jemur bantal. Dokter gigi saya SMS pagi-pagi memberitahukan memajukan jadwal kontrol tanggal 20 April 2008, sayang saya ga bisa, nunggu sembuh dulu lehernya. Nanti ga jelas mana sakit karena urusan gigi atau sakit leher dan kepala yang tiba-tiba datang. Biasanya dokter gigi saya, kalau saya merasa sakit, beliau berhenti dulu. Wah, kalau berhenti terus lama donk selesainya.

Untuk bekerja di depan komputer saya ga sanggup untuk lama-lama. Cari di google, ketemu obat masa kini, namanya Neuropyron-V yang terdiri dari Methampyron 500 mg, Vitamin B1 50 mg, Vitamin B6 100 mg, Vitamin B12 100 mcg, minumnya 3 kali dalam sehari sesudah makan. Alhamdulillah, bisa tidur ….
Besok harinya, sepanjang waktu, saya oleskan counterpain dan seperti biasanya saya ga bisa bertahan lama di depan komputer. Malam hari, obatnya ga manjur, saya kembali ga bisa tidur.

Hari Kamis di malam hari, ga kuat juga dan disarankan oleh para pelanggan dan teman-teman di dunia maya, saya pergi ke dokter. Dan dokter memberi obat yang sejenis dengan Neuropyron-V tapi agak lebih keras dan ramah dengan lambung saya. Juga dikasih obat untuk merilekkan otot dan penenang.

Malam hari, bisa tidur :). Pagi harinya, lumayan tidak begitu sakit, kepala saya juga ga seperti ditarik, sudah mudah makan, nelan ludah, minum. Kata dokter, boleh saja diurut tapi harus pelan dan sembuhnya sekitar kurang dari 2 minggu. Dan jangan lupa masih diolesin balsem atau counterpain atau kompres dengan air hangat sering-sering.

Mudah-mudahan cepat sembuh, benar-benar tersiksa, sampai-sampai bales email, ngaco tulisannya :))

Tempat Jin Buang Anak

Tahun 1988, Bekasi dianggap “jauh” sekali. Kalau kesana lewat jalan tol dengan bis Mayasari yang butut dan tidak ber-AC, berhenti di UKI kemudian naik bis lagi untuk turun di Gelael Tebet. Jalan kaki, naik bis super cepaaaaaat yaitu Metromini S60.

Teman-teman saya bilang, “Auliah tinggal di tempat jin buang anak!!”. Kalau saya nyebutnya “tinggal nun jauh disana”.

Perkembangan Bekasi termasuk paling cepat. Dari bis Mayasari butut tanpa AC sampai Mayasari AC berbody biru dan putih, dengan tempat duduk nyaman dan bisa tidur. Dari berhenti di UKI, pelan-pelan tapi pasti sudah berhenti disegala terminal di ibukota.

Dulu komplek saya, gersang, banyak debu, banjirnya cuma didepan komplek, persisnya dekat jalan protokol kota Bekasi.

Pelan-pelan tapi pasti mulai dari tidak ada telepon dan angkot, akhirnya ada angkot berhenti depan rumah, Indomart pas sebelah rumah, ada show room kecil-kecilan tapi ramai, pas disebelah rumah juga. Ada televisi dan internet kabel, gas, PAM, harga rumah yang tinggi karena berada di segitiga emasnya kota Bekasi. Musim kemarau, daun Akasia berguguran, hujan datang, rimbun kembali. Tapi tetap debunya ga tahan, banjirnya semakin lama sudah sampai melewati rumah saya. Tinggi air bisa sampai betis. Pemerintah kota Bekasi telah berusaha untuk memperbaiki gorong-gorong di bawah jalan Ir. H. Juanda tapi tetap banjir. Kalau ke mall tinggal jalan kaki, tinggal pilih mau ke arah terminal atau ke Mangunsarkoro. Kalau mau sembako murah, ada Pasar Baru Bekasi, tinggal jalan kaki atau naik angkot, cuma 10 menit.

Bekasi macet, iya macet kalau jam pagi dan sore hari sampai di depan rumah saya. Serunya, Mayasari, kendaraan paling setia, supir dan keneknya hapal muka kita, lewat juga di depan rumah. Asyikkk .. Maklumlah, kami pelanggan mereka dari tahun 1988, dari kami yang masih malu-malu sampai berpakaian blazer, hak tinggi dan bergincu. Sayangnya, mereka belum bisa merubah hidupnya.

Bekasi sudah bukan “Tempat Jin Buang Anak”

Sekarang, sudah 4 tahun tinggal di lain tempat dan kembali kata-kata “Tempat Jin Buang Anak” terdengar. “Tempat Jin Buang Anak” bukan sembarangan diucapkan. Kemarin, beberapa tetangga cerita memang benar banyak setannya bukan jin. Saya dikasih tahu beberapa titik yang perlu diwaspadai jika malam hari. Saya pernah ke salah satu titik tersebut pada siang hari, agak lama, duduk-duduk. Tempatnya nyaman dapat hembusan angin dari pohon bambu dan suara gesekannya jadi ingin tidur. Kalau malam hari, memang didaerah tersebut kurang pencahayaan.

Pernah, heboh color hijau santer terdengar, seluruh isi komplek waspada tapi tidak terlihat panik. Waktu itu color hijau baru nyatronin perumahan tetangga. Untungnya si color hijau menjauh dari komplek.

Memang, daerah yang sekarang ditempati, lambat sekali pertumbuhannya dibandingkan dengan Bekasi. Komplek tersebut sudah ada sebelum tahun 1985. Semenjak ada angkot, waktu operasinya cuma sampai jam 5 sore. Kalau ke Jakarta berat diongkos dan “lebih cepat tua dijalan”. Kalau ke mall harus ke Bintaro, BSD, Pondok Indah atau Town Square. Bedanya, udara sangat segar, airnya dingin, dan petirnya ga kuukuuu. Bagus untuk tempat istirahat, olahraga, cuci mata lihat yang hijau.

Kayak Di Goa

Keluarga saya sebenarnya tidak begitu kaget soal anjuran penghematan listrik, setiap hari sudah hemat listrik. Waktu malam hari, cuma lampu depan dan belakang rumah. Remang-remang persis kayak gua.

Continue reading →

Mbak & Uni

Saya sebenarnya agak keberatan jika dipanggil Uni dan Mbak.

Kalau Uni, di kampung saya, Silungkang tidak mengenal panggilan tersebut. Uni biasanya dipakai oleh masyarakat Minangkabau lainnya.

Continue reading →