Entries Tagged 'Story' ↓
November 23rd, 2007 — Sosial, Story
Seorang ayah bercerita dengan bangga kepada anaknya yang beranjak remaja.
Dimulailah cerita tersebut ….
Waktu SMA dulu, ayah jadi Ketua Osis, kemana-mana hayoo. Panjat tebing, naik gunung, main musik, main drama, sibuk sana sibuk sini. Pokoknya ayah populer saat itu dan disayang guru. Dan pasti dari kelas 1 sampai dengan kelas 3 semua kenal ayah. Beberapa teman-teman ayah saat ini ada yang sudah terkenal jadi artis, pejabat, pengusaha dan macam-macam deh. Satu persatu ayah sebutkan nama-nama temannya yang terkenal sekarang dan beberapa ada yang dikenal si anak karena pernah lihat ditelevisi.
Dulu ayah menggunakan pakaian model yang lagi trend zaman itu. Mulai dari atas rambut sampai kaki, trend habis. Kalau anak sekarang bilangnya “Anak Gaul”.
Anaknya mendengarkan dengan seksama dan penuh kekaguman. “Ayahku hebat”.
“Bagaimana pelajaran ayah?”, tanya anaknya.
Karena kebanyakan ngadain kegiatan dan jadi panitia itu dan ini, pelajaran akhirnya jatuh walaupun waktu ujian terakhir lulus dengan nilai pas-pasan.
Suatu hari anaknya menghadap dan mengajukan izin.
“Ayah, saya boleh ikutan OSIS ?”
“Ngapain kamu ikutan OSIS ? Menghabiskan waktu saja, nanti pelajaran kamu tertinggal !”, katanya ayahnya dengan nada kurang senang.
Dengan pandangan heran dan sedih.
“Tapi ayah …”
“Tidak ada tapi-tapian, kamu boleh ikut organisasi apapun di sekolah tapi tidak jadi pengurus !”
Dengan hati sedih, dia pergi menjauh dari ayahnya.
Sebenarnya anak ayah murid pintar di sekolahnya. Waktu di SD dulu pernah memangku 2 jabatan strategis dan begitu banyak perlombaan yang diikutinya tapi pelajaran tidak tertinggal, selalu rangking.
Sambil duduk termenung di teras rumah, “Mungkin ayah benar, nanti pelajaran tertinggal”.
Masuk kuliah, si anak ikut organisasi yang diminatinya.
Suatu hari menghadaplah si anak ke ayahnya dan pertanyaan kurang lebih serupa waktu SMA.
“Ayah, saya boleh jadi panitia “A” ?”
Ayah pun menjawab dengan santai.
“Kuliah aja dulu sampai beres, baru ikutan jadi panitia ini dan itu”
“Tapi ayah …”, jawab si Anak.
“Tidak bisa, kuliah yang benar, boleh ikutan organisasi kampus tapi ga boleh ikutan jadi ketua, wakil ketua, bendahara dll apalagi jadi panitia ini dan itu! Ngabisin waktu, uang dan tenaga !”
Tapi si anak cerdik, diam-diam dia telah menjadi panitia tapi bukan yang strategi, dia menjadi anggota panitia atau wakil panitia. Dan si anak bisa membagi waktu agar tidak ketahuan ayahnya.
Disuatu sore hari, Ayahnya bercerita kembali organisasi yang pernah diikutinya setelah lulus SMA bahkan sampai ikutan partai dan anak partai. Dan seperti biasanya, ayahnya bercerita dan menyebutkan nama-nama teman organisasinya. Ada yang jadi menteri, pejabat, anggota DPR MPR, dubes, diplomat, penguasa, gubernur dan sebagainya.
Dan seperti biasanya sianak mendengarnya dengan kagum.
Suatu hari, pulang dari kerja.
“Ayah, saya diangkat jadi Ketua Panitia di kantor!”
“Bukannya kerja malah jadi ketua! Ngabisin waktu dan uang saja !”
Mendengar hal tersebut si anak cuma tersenyum sinis.
November 18th, 2007 — Story
Di depan kamar saya, berdiri pohon mangga Manalagi yang dibeli saat dia masih kecil, bukan berasal dari biji. Waktu beli, ibu ingin punya mangga harum manis. Kata penjualannya, pohon yang ditunjuknya memang mangga harus manis. Karena ibu tidak tahu model-model pohon mangga, iyakan saja. Beliau tentulah lebih percaya sama yang jual diperkirakan tukang pohon pasti tahu barang dagangannya.
Setelah berbuah dan orang-orang sering bilang, pohon yang di rumah bukan mangga Harum Manis tapi si Manalagi. Orang-orang melihat dari daunnya.
Kecewalah ibuku, karena dibohongi atau memang penjualnya tidak tahu yach ?!!!
Setelah belajar berbuah selama 2 tahun dengan buah yang kecil, sering gagal, diserang lalat dari pasar, banyak kutunya, akhirnya musim mangga kali ini buahnya lumayan banyak.
Buah yang terbanyak bergelantungan di luar pagar. Menurut hukum pidana (kali yach ??), buah yang berada di luar pagar rumah adalah milik umum.
Waduh … yaahhhhhh …
Kalau jalan-jalan di Jl. Raya Pondok Petir, banyak banget buah yang keluar dari pagarnya, mulai dari rambutan, mangga, duren, duku, jambu, jeruk Bali, nangka, melinjo dan sebagainya. Nah, buah-buah tersebut gampang ngambilnya, tidak perlu susah payah, bisa digapai dengan dengan mudah. Kalau kita menggunakan hukum pidana tersebut, kita bakalan diteriakin maling. Sekuat kita beragumen tetap kita diteriakin MALING.
Kembali ke mangga Manalagi. Seperti biasanya, orang tua saya akan membagikan. Seperti yang dilakukan waktu punya jambu apel yang enak banget di Bekasi.
Menurut orang-orang yang jago pohon, buah mangga Manalagi masih muda tetap enak dagingnya … buat rujak.
Soal pohon yang ditaruh diluar pagar rumah, saya pernah punya Srikaya. Karena terlalu lama muncul buahnya, saya gembira sekali. Pas sudah besar, buahnya diambil orang …. 
October 23rd, 2007 — Photo, Politik, Sosial, Story
Sudah cukup lama saya merasa ada yang aneh dengan wajah Gajah Mada. Tapi entahlah dibagian mana.
Tahun berganti tahun, Gajah Mada terlupakan dan teringatkan.
Dan akhirnya … saat ini saya perhatikan lebih mendalam wajah Gajah Mada dari internet.
Hmm … rupanya bibirnya … bibirnya terlalu tebal. Alisnya kayak perempuan.
Maaf ya … terpaksa nih, ga tahan untuk diungkapkan.
Baca-baca di Paman Google, wajah Gajah Mada yang ada dimana-mana merupakan wajah imajiner pembuatnya.
Walaupun begitu Gajah Mada masih tetap menjadi misteri dalam kehidupan pribadinya. Dan beliau diperebutkan oleh Jawa Tengah dan Sumatera Barat.
October 22nd, 2007 — Story
Malam minggu kemarin, daerah saya gelap gulita. Saya terjaga pukul 2.30 pagi/subuh karena terbangun oleh suara ibu dan bapak diluar rumah.
Wow, gelap. Keluar dari kamar cuma diterangi oleh beberapa cahaya lilin.
Rupanya bapak sedang bercakap dengan pihak keamanan yang jaga malam. Seluruh komplek mati lampu sampai di luar komplek/perkampungan.
Hmmm …. diluar kebiasaan 
Tumben kompak 
Kalau ditempat saya, kalau mati lampu tidak sekaligus karena dibagi dua wilayah kerja PLN. Ada wilayah kerja PLN Tangerang dan wilayah PLN Depok. Kalau saya di wilayah PLN Depok, kalau gang sebelah termasuk PLN Tangerang.
Wilayah kerja PLN Tangerang termasuk luas di komplek perumahan saya. Padahal kita keseluruhan masuk wilayah Depok. Saya menyebutkannya gang sebelah sebenarnya mulai gang sebelah sampai perbatasan Tangerang.
Kalau gang sebelah mati lampu, bagian saya tidak mati lampu. Kalau bagian saya bisa dikatakan jarang sekali mati lampu. Gang sebelah keseringan banget. Apalagi waktu mereka gardu listriknya diatas alias model lama. Kalau mendung aja, listrik dijamin dimatikan, takut kesamber petir
Siang bolong aja bisa tiba-tiba ada geledek kenceng banget …
. Kalau bagian saya, geledeknya membahana dengan cahaya yang terang benderang sampai kaca jendela dan ubin bergetar kemudian tinggal “Smileeee …”, jadilah kita difoto …
… tetap lho hidup listriknya.
Waktu Jakarta ada giliran pemadaman listrik, gang sebelah dan seterusnya mati lampu. Kalau bagian wilayah saya (PLN Depok) tidak mati lampu.
Kenapa ya … seperti itu ? Kalau telepon juga gitu, saya termasuk bagian Jakarta Selatan, tapi speedynya Ciputat. Ciputat itu Tangerang. Tetangga, Telkomnya masuk Tangerang padahal jaraknya beda 10 rumah. Pokoknya wilayah Listrik dan Telkom amburadul di komplek saya.
October 16th, 2007 — Sosial, Story
Waktu bulan puasa, ramai sekali yang mengadakan buka bersama dengan singkatan BukBer.
Setelah lebaran, puas-puas sama keluarga dan family saling berkunjung. Kemudian ramailah undangan untuk Halal bi Halal.
Kata Halal bi Halal menurut informasi di NewsDotCom. Siapa ya namanya tuh, coba lihat di websitenya NewsDotCom, mengatakan kata tersebut sudah lama ada saat zaman kemerdekaan yang diadakan oleh kaum muda di Yogyakarta.
Nah, saya dapat undangan atau pemberitahuan untuk Halal bi Halal. Salah satunya dari Awari, teman-teman di Palmerah, dari kampung halaman, dan dengan pasti menyusul dari Al-Azhar.
Yang paling dinanti … Pestablogger Indonesia. Yeahh dapat undangan Free :).
Ada yang dalam 1 hari, 3 acara Halal bi Halal. Kemungkinan besar hanya menghadiri 1 tempat saja.
Sibuk ya 
October 10th, 2007 — Story
Suatu ide menurut saya “gila” habis dilontarkan oleh 2 tante saya. “Auliah, kalau ke Sumatera Barat lewat Sumatera Selatan, Jambi, Riau ?”
“Yap, Kenapa ?”
“Bagaimana, habis dari Silungkang, kita ke Singapura dan Malaysia ?, Dekat kan ? Kita kunjungi saudara-saudara tante yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sana”
Gleeeekkkkk …. Saya terkejut.
Dekat sih, tinggal belok ke kiri … hahahaha. Permasalahannya jalan di Sumatera termasuk berat, jalannya ada yang belum semulus di Jawa, masih banyak hutan, gelap, jarang lampu, rumah makan dan rumah penduduk jaraknya jauh.
Dari Jakarta sampai kampung halaman saja capek banget terus dilanjutkan ke Singapura dan Malaysia. Duh …
Kalau lewat darat, butuh driver 4 oranglah paling sedikit 2 orang. Bawa uang juga harus banyak, apalagi kalau ke Singapura, ga mungkin kalau ga beli.
Kalau soal visa dan passport ga masalah, tinggal urus.
Tapi wait …. bagaimana kalau sampai Singapura saja, ke Malaysia ga mau achhh … Ketemuan saudara yang tinggal di Malaysia diperbatasan saja 
October 6th, 2007 — Story, Traveling
Orang-orang pada pulang kampung lebaran nanti. Senang ya … apalagi kalau kampungnya dekat, misalnya di daerah pulau Jawa, cuma beberapa jam. Kecuali kalau ke Jawa Timur ujung yang jarak tempuhnya sama ke Sumatera Barat, bisa 2 hari 1 malam. Kalau jalan di Jawa mulus, banyak lampu, keamanan terjamin. Tapi kalau pulang ke Sumatera, wuihh deg-degan, penuh petualangan, pengaturan time yang tepat agar tidak masuk ke wilayah yang banyak bajing lompatnya. Kalau menurut Auliah, paling seru kalau ketemu monyet yang jenisnya baru dilihat di kebun binatang, ketemu babi hutan, harimau, kadal raksasa, suku Badui, lihat pohon sawit, pohon duku dan durian plus sama buahnya. Memandang dan berharap kapan kita lihat laut. Saking rindunya, pernah langit biru diujung mata dikiranya laut, berarti sudah sampai Merak. Atau kalau sudah dijalan mulus dan lurus berarti sudah sampai kampung halaman. Itu namanya seru habis …
Nah, itu kalau pake kendaraan. Kalau pake pesawat terbang, cepat, ga cape, murah. Sepupu Auliah dapat tiket Rp. 100.000 … hmm … aman ga ya … cuma segitu harganya
Apapun kendaraannya, yang penting pulang kampung. Kalau sudah sampai di kampung halaman. Kita muter-muter ke seluruh Minangkabau. Pemandangannya ga bakalan bosan untuk dilihat apalagi makanannya. Dimana-mana makanannya enak semua. Walaupun di Jakarta juga ada restoran Minang tetapi rasa makanan di kampung lain banget, … pokoknya lebih enak. Sebentar-bentar kita makan dan makan. Pernah Auliah di kampung cuma 7 hari naik 5 kilo …….. hahahahahaha ….
Duh, jadi kangen sama kampung halaman, pulang kampung yuuukkkk …. rame-rame lebih seru ….
Sumber foto pada paragraf pertama : Daniel
Foto yang kedua : Corbis
October 5th, 2007 — Story
Pergi jalan keluar dari rumah saat puasa dan sinar matahari sangat terik membuat cepat haus.
Minggu kemarin, saya pergi ke toko buku Gramedia di Blok M. Siang yang sangat panas tapi ada angin yang berhembus. Jalan menuju ke Blok M lumayan lancar, macet sedikit di Pondok Cabe.
Sesampainya di Blok M, wuiih banyak sekali orang-orang belanja di Ramayana, Matahari sampai di toko-toko penampungan sementara pedagang yang terkena kebakaran.
Kakilima yang jualan tas dan sepatu super murah dengan kualitas Ok deh, juga dipadatin pembeli. Jalan saja susah minta ampun, saya sampai harus mendorong pantat orang dengan tas.
Saya dehidrasi, haus sekali, tenggorakan kering sekali sampai tersekat. Beberapa orang saya lihat pada beli minuman es kelapa, teh botol, makan bakso didepan umum.
Asyik sekali ya … tapi saya tahan agar ga buka, tahan sakit kepala karena kena sinar matahari yang terlalu menyengat, yah anggap saja ini cobaan dibulan puasa.
Rencananya mau ke Kota juga tapi lihat pembelian tiket busway tidak bergerak, super panas, kemudian pas dihaltenya antrian juga panjang baget akhirnya dibatalkan daripada nanti kenapa-kenapa ya …
Pas buka puasa, saya langsung minum sebanyak-banyaknya.
Kalau sebulan saja seperti ini, ga minum-minum, koit kali ya …
September 25th, 2007 — Kesehatan, Story
Duh, banyak nyamuk. Gigitannya tajam. Langsung buka pintu dan jendela, mereka menghambur ke dalam.
Duh, banyak nyamuk … sudah disemprot jangan datang lagi ya … Mau tidur …
Duh, banyak nyamuk … mudah-mudahan bukan nyamuk malaria. Tapi saya lihat kalian ga ada tampang nyamuk malaria.
Duh, banyak nyamuk … jika musim panas terlalu panjang ….
September 25th, 2007 — Bisnis, Story
Karena global warming local, lem lantai di rumah pun mengering.
Becanda ding… kali lho
Menurut tukang yang biasa pasang lantai, banyak rumah-rumah yang lantainya itu pada copot lemnya. Kata pak tukang karena terlalu panas, jadi “lem”nya mengering, terlepaslah. Pak tukang ini juga mengerjakan lantai di rumah lain yang terlepas dari “lem”nya.
Mula-mula kaget banget, karena lantai itu naik keatas. Kalau saya pijak, lantai turun naik dan berbunyi. Duh, tanya dalam hati, timbul parnonya … tadi memang ada gempa ya … atau ini efek dari gempa
Cepat-cepat panggil Bapak. Bapak saya dengan santai, gpp kok. Maklumlah saya, belum pernah kejadian seperti ini dan cuma bisa bilang “Oh …”
Jadi sekarang lantainya dilepas untuk penyelamatan. Dan yang belum terlihat menaik dan bunyi-bunyi, diketok-ketok “Halloooo, anybody home ?” Kalau nyaring bunyinya berarti harus dilepas dan dipasang lagi dengan “lem” baru. Kalau ga cepat dilepas terus kita injak-injak dalam waktu lama, lantainya akan pecah. Lantai dengan warna senada yang ada dirumah sudah ga ada yang jual.
Sekarang, lantainya bercorak abu-abu dengan tekstur kasar dan coklat yang halus 
September 21st, 2007 — Sosial, Story
Menurut saudara saya, dimilist-milist lagi heboh soal gempa 9 SR. Tapi dibeberapa milist yang saya ikutin belum beredar ya …
Informasi yang pertama saya dengar itu dari wawancara MetroTV dengan ahli geologi BPPT. BPPT dan BMG sudah memperkirakan setahun yang lalu bahwa gempa di Bengkulu itu memang akan terjadi. Permasalahannya tidak tahu kapan.
Dari pada kita “pusing” sama urusan gempa, bagaimana cara kita menyelamatkan harta benda ala saya
Waktu anak Krakatau sedang batuk-batuk sedang, saya heboh cari-cari bahan-bahan tentang meletusnya si ibu Krakatau. Karena khawatir, saya mendesak keluarga mempersiapkan sesuatu jika anak Krakatau meletus. Mendesaknya tidak bilang “Ayo donk” tapi dengan cara dibicarakan terus setiap hari
Hahaha ….. dan terlaksana.
Saya masukin baju yang ringan-ringan dan kebutuhan pribadi ditas ransel. Beli biskuit, air mineral, sikat gigi, sabun, pembersih muka, pembalut, baju dingin, kaos kaki, alat sholat, KTP, HP, charger, bulpen (kali aja buat nulis), korek api. Harus dirombak beberapa kali untuk memilah mana yang penting banget. Setelah pas, saya taruh di samping tempat tidur dengan baju dingin diatas ransel dan sendal disampingnya.
Yang membuat saya tercenung soal majalah dan buku resep masakan saya. Banyak banget, tidak mungkin dibawa-bawa. Padahal “mereka” itu merupakan benda yang paling berharga. Tapi sudah ketemu solusinya, taruh di internet aja
cari masakan yang tenar, tradisional, saya paling suka, bagus fotonya dengan menggugah selera, ga aneh-aneh dan sudah pernah dicoba dengan rasa ok.
Kalau bapak saya setelah urusan pribadinya berlanjut urusan dokumen. Beliau memang dari dulu telah menempatkan dokumen disatu tas. Tas beratnya minta ampun. Gimana diajak “lari”. Setiap hari beliau bilang ke anak-anaknya dimana tempatnya dan yang paling penting tas tersebut harus diselamatkan.
Setiap malam baca doa banyak banget, pengaturan posisi tidur, setiap hari kolong tempat tidur disapu. Kali aja ga sempat menyelamatkan diri ke luar rumah, ngumpet di kolong tempat tidur.
Bersihin loteng atas, kali aja menyelamatkan diri ke sana
Rencananya sih mau bikin gerobak kecil untuk ngangkut semua tas tapi tidak jadi mahal bikinnya.
Sebenarnya rumah saya bisa dianggap tidak terjangkau sama tsunami karena cukup berada diketinggian. Tapi siapa tahu ya … cuma dikhawatirkan gempanya. Waktu Krakatau meletus tahun 1800-an, Bogor hanya merasakan gempa kecil dan terlihat di langit Jakarta ada sesuatu.
Tapi untungnya anak Krakatau ga lama sudah tenang lagi.
Ada satu lagi yang berhasil membujuk bapak saya mengansuransikan rumah. Cuma tahan 1 tahun dan tidak diperpanjang lagi. Akhirnya kita mah pasrah saja. Yang penting udah usaha.
Untuk kasus 9 SR, kita cuek nih …. lagian mau diapain lagi … baca petunjuk penyelamatan diri sudah tapi belum dipraktekkan.
Saya malah bingung bagaimana menyelamatkan diri dari kaca yang dekat sekali dengan tempat duduk. Rumah saya itu keamanannya berlapis, kalau gempanya terjadi malam-malam, kita sibuk nyari kunci dan buka pintu. Kalau lagi panik, grogi juga cari lubang kunci.
Sekarang tinggal berdoa …. “mudah-mudahan ga ada 9 SR”.
September 13th, 2007 — Kesehatan, Photo, Sosial, Story
Rabu kemarin, gempa melanda Bengkulu, Sumatra Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sekitarnya bahkan sampai negara tetangga. Pusat Gempa di Bengkulu dengan kekuatan 7.9 Skala Richter pada pukul 18.10 WIB. BMG memberikan peringatan tsunami tapi sudah dicabut.
Saat itu, saya sedang menonton siaran berita dari ANTV. Penyiar berita saat itu mengumumkan bahwa di studionya terasa guncangan. Saya lihat layar televisi bergerak tapi penyiarnya tetap siaran, tidak beranjak dari tempatnya.
Loyalitas terhadap pekerjaan dan pemirsanya … hebat ya … nyawa taruhannya. Dia terus siaran sampai gempa reda. Cukup lama juga.
Yang nonton aja panik lihat layar televisi bergerak tak tentu arahnya. Mukanya saya lihat ketakutan tapi “jalan” terus siarannya …
Saya sendiri ga terasa gempa tapi adik laki-laki saya terasa karena dia duduk di lantai. Kalau saya duduk dikursi. Hmm … biasanya terasa sih … tapi ga tahu kenapa tidak terasa.
Sepupu, suaminya, anak-anaknya dan ibu sepupu saya yang tinggal di kota Padang ketakutan sekali. Rabu, mati lampu. Karena sering gempa, mereka tidur diluar rumah.
Tadi pagi, 5 Pagi (Jum’at, 14/9/2007), saya nonton berita di MetroTV bahwa gunung Talang sudah gempa 400 kali. Saya harap ke mereka untuk pulang ke Silungkang. Kalau sampai Gunung Talang meletus, terus ada gempa besar dan tsunami mereka tidak bisa pulang ke Silungkang. Untuk lewat Silungkang harus melewati Solok (Gunung Talang).
Menurut keterangan sepupu saya, hari Jum’at sudah hidup lampu, rumahnya tidak ada yang rusak. Banyak saudara dari pihak suami yang tinggal di rumah mereka karena letaknya lebih tinggi. Bantuan sudah datang, sudah ada yang memberi instruksi cara menyelematkan diri dari Tsunami.
Menurut wawancara kemarin pagi di MetroTV dengan ahli geologi BPPT bahwa kita menunggu gempa kekuatan 9 Skala Richter. Bapak tersebut mengharapkan bahwa gempa yang terjadi saat ini dicicil sehingga tidak terjadi yang 9.
Tapi beliau tidak tahu apakah ini gempa cicilan atau nanti ada yang 9. Beliau tidak tahu kapan yang besarnya.
Tapi saya harap ga terjadi yang 9. Duh …
Gempa di Bengkulu dan Sumbar akan terjadi dalam 2 pekan dengan skala lebih dari 5, menurut BMG.
Video : CNN
News : Yahoo, Liputan6.com, Are We Ready for Another Tsunami
Photo : AFP, Reuters
An Indonesian girl kisses her cat near her collapsed house in Lais, Bengkulu, Sumatra island, Indonesia, Thursday, Sept. 13, 2007. Three powerful earthquakes jolted Indonesia in less than 24 hours, triggering tsunami warnings, damaging hundreds of houses and sending panicked residents fleeing to high ground. Rescuers feared some victims were trapped beneath the rubble. (AP Photo/Dita Alangkara).

An Indonesian rescue team removes a body from a damaged building in Padang of West Sumatra province September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Singgalang- Muhammad Fitrah (INDONESIA).

A motorist passes cracks in a damaged road at Air Besi in North Bengkulu, 13 September, a day after a massive 8.4 magnitude earthquake shook the region. Huge aftershocks rumbled across Indonesia’s Sumatra island on Thursday but officials said the damage from a massive earthquake that killed 10 people was not as bad as feared.(AFP/Adek Berry)

A mother holds her son as he is treated by a doctor at makeshift tent hospital in Bengkulu September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)

Hospital patients stay at a makeshift tent after an earthquake, in the Indonesian city of Bengkulu, September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)
September 12th, 2007 — Story
Besok puasa nih … Waktu cepat berlalu ya.. sudah puasa lagi. Saya ingin sekali melakukan sebaik-baiknya, mungkin saja puasa tahun depan ga ketemu …
Pasti teman-teman sudah banyak menerima SMS permintaan maaf.
Acara meminta maaf sebelum puasa di Indonesia baru-baru ini dilaksanakan, kurang lebih 8 tahunan
Tepatnya sih ga ingat.
Zaman bahola ga ada lho, waktu saya kecil sampai 4 tahun saya kerja.
Waktu pertama kali “acara meminta maaf sebelum puasa” ini dilaksanakan didapat dari teman di YISC.
“Auliah, mau puasa nih, minta maaf jika ada salah”
Langsung deh saya bilang (masalah saya kurang suka sama orang yang minta maaf jika tidak punya salah sama saya)
“Lho, kamu ga pernah salah sama saya, ga ada perlu dimaafkan. Terus apa hubunganya sama puasa ? Dari dulu kita ga ada acara memaafkan, adanya waktu lebaran”
Dia nerangin alasan kenapa harus meminta maaf jika ada salah. And I ic.
Dan sampai sekarang, acara meminta maaf terus berjalan.
Walaupun rada aneh menurut saya, tapi karena positif dan tidak merugikan kita sokkk atuh … saling memaafkan.
Dari pesan YM ada yang bilang gini :
Do’a Malaikat jibril Menjelang Ramadhan ” “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; * Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at.
Kemarin dapat SMS dari teman dengan bunyi seperti ini :
“Assalamu’alaikum sahabat, seblm nanti kita puasa, ijinkan saya memohon maaf atas segala perbuatan & lisan saya selama ini yg tdk terjaga, menyakitkan perasaan & tdk menyenangkan. Selamat menjalani ibadah bulan puasa ya nanti. Semoga segala amal kebajikan dpt kita raih & diridhoi Allah SWT”
Kata-kata yang menyentuh hati. Saya cuma bisa terpana dan bingung mau bales dengan kalimat apa ya …
Akhirnya saya bales : “Idem” 
Saya kembali melanjutkan pekerjaan sambil mikir “kok jawabnya idem ya ?” 
Ada lagi nih :
Bila Ramadhan adalah lentera, izinkan membuka tabirnya dg maaf, agar cahyanya menembus jendela jiwa, hapuskan tiap helai khilaf, slmat mnunaikan ibadah puasa.
Duh, jawab dengan kalimat apa ya …. maunya sih kreasi sendiri tapi ga sempat. Jadi jawabnya : maafin juga ya jika ada kesalahan kata-kata dan perbuatan.
Mau tanya juga penasaran dari dulu, SMS ucapan maaf untuk menjalankan ibadah puasa, lebaran and tahun baru itu “idem” ga ya untuk semua orang ? Maksudnya si A kirim kalimat ucapan ke B, si B kirim kalimat si A ke C, si C kirim kalimat si A ke D ? 
Sebagai penutup, simple aja (hehehe ga tahu harus ngomong apa) :
Maafin ya kalau ada salah dalam penyampaian kata-kata di blog ini. Maaf lahir dan batin.
Met Puasa …
September 7th, 2007 — Sosial, Story
Perencanaan bagus jika dibuat jauh-jauh hari. Kita bisa lebih santai, lebih mantang, lebih rapi dan lain-lain.
Begitu juga puasa dan lebaran. Orang-orang sudah jauh-jauh hari membeli tiket untuk mudik. Hal ini dilakukan untuk menghindari kehabisan tiket, harga tiket yang mahal 10 hari sebelum lebaran dan antrian panjang yang melelahkan.
Seperti tahun-tahun terdahulu selalu begitu.
Berita Liputan6 Siang memberitakan bahwa tiket kereta api pulang kampung saat -10 lebaran naik hingga 40%.
Nah, pasti banyak yang sudah pesan tiket saat ini. Ayo pesan tiket sekarang, nanti keburu habis dan mahal 
Saudara saya tanya, “Auliah, lebaran nanti mau kemana?”. Sesaat saya bengong, “Hehehe, ga tahu, mungkin di rumah saja”. Jawab ngasal 
Saya cuma ketawa kecil. Lucu aja, puasa aja belum tapi sudah sibuk menyambut lebaran.
September 5th, 2007 — Bisnis, Sosial, Story
Dalam dunia dagang ada hal-hal tertentu yang harus dirahasiakan oleh publik. Saat-saat tertentu juga si pedagang akan berbincang-bincang kepada salah anggota keluarganya soal perniagaan didepan orang banyak/pembeli. Bisa jadi ini situasi yang tidak bisa dihindarkan sehingga dengan terpaksa berbicara di depan orang banyak (pembeli).
Misalnya harga pokok (modal) suatu barang, lokasi mana barang itu diambil dan sebagainya.
Paling enak orang Cina. Karena orang Indonesia masih jarang mengerti bahasa negara tirai bambu tersebut.
Kita/orang pribumi pun yang berniaga dapat saja menggunakan bahasa daerahnya. Misalnya bahasa Jawa, Minangkabau, Aceh, NTB, Papua, Maluku dan lain-lain.
Kami sering mengalami kendala dalam bahasa rahasia ini. Karena sering kali juga harus mengutarakan suatu rahasia yang tidak boleh orang tahu, dan kebetulan kami dalam posisi di tempat publik alias di toko.
Kalau kami menggunakan bahasa Indonesia, tentu semua orang tahu apa dibicarakan. Jika menggunakan bahasa Sunda, saya hanya bisa 10 %, adik saya 80%, Bapak saya bisa 40%. Maklumlah adik saya pindah SMP ke Bekasi, dia mendapat pelajaran bahasa Sunda. Sedangkan saya pindah SMA ke Bekasi sudah tidak belajar bahasa Sunda. Kalau bahasa Sunda dipergunakan, pasti saya malah sering ga nyambung dan sering tanya “Apa tuh artinya ?”. Bahasa Sunda ditempat saya (Depok) dari anak anak kecil sampai orang besar disana mengerti dan bisa mengucapkannya.
Kalau bahasa Jawa, duh kami cuma ngerti 1%, Bapak saya mengerti bahasa kasarnya sekitar 60%, bahasa halusnya 10%. Tapi pernah lho teman saya berbicara dengan teman saya yang lain menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan ditengah-tengah antara mereka ada saya. Karena saya mengerti apa yang diomongin, langsung deh nyeletuk, “Bagaimana kondisi dia sekarang ? Sudah baikan ?”. Keduanya bengong melihat saya. Ketahuannya ni yee …. 
Bahasa Cina … apalagi … kami ga bisa sama sekali. Bapak saya bisa 20%. Bapak sering sih ngasih tahu bahasa Cina yang angka tapi kok ga masuk otak ya … 
Bahasa Silungkang (Minangkabau). Bahasa kampung halaman saya ini kebanyakan ada persamaan dengan bahasa Indonesia. Walaupun orang yang bukan Silungkang pun pasti mengerti banget kecuali kalau kami ngomongnya sambil kumur-kumur. Bahasa Minangkabau menurut saya ada dua yaitu Minangkabau laut dan Minangkabau gunung. Kalau gunung itu salah satu contohnya Silungkang, rada-rada kemelayu-melayuan, jarang ada O-nya, masih ada persamaan dengan bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris, everybody know … Ga mungkin ga ngerti kecuali anak balita.
Jalan keluarnya, menggunakan bahasa Perancis. Saya pernah belajar selama 2 tahun menggunakan bahasa kumur-kumur itu. Saya anak IPS yang dalam seminggu belajar bahasa Perancis 5 hari, ada yang 1 kali pertemuan 2 jam, ada yang 3 jam. Walaupun ga bisa banget-banget, maklum kalau ulangan selalu kurang tanda kutipnya melulu. Tapi ada-lah. Lupa … ? Tinggal diasah lagi 
Adik saya selama 10 tahun bekerja di orang Perancis. Bos dan temannya berasal dari negara fashion itu. Adik saya jadi Sekretaris. Masak selama 10 tahun ga bisa nyuri-nyuri ilmu walaupun cuma sedikit.
Saya sering kok tanya ke dia, kalau kata bahasa Perancis yang ini diucapkan apa ? Dia bisa kok jawabnya.
Kita sih sebenarnya sering membahas soal angka, kata modal, kata tidak dan ya. Jadi hapalkan saja yang itu dulu.
Bereskan …
Tapi sampai sekarang ga dilaksanakan
… keseringan pake bahasa bisik-bisik 