Entries Tagged 'Story' ↓
October 10th, 2007 — Story
Suatu ide menurut saya “gila” habis dilontarkan oleh 2 tante saya. “Auliah, kalau ke Sumatera Barat lewat Sumatera Selatan, Jambi, Riau ?”
“Yap, Kenapa ?”
“Bagaimana, habis dari Silungkang, kita ke Singapura dan Malaysia ?, Dekat kan ? Kita kunjungi saudara-saudara tante yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sana”
Gleeeekkkkk …. Saya terkejut.
Dekat sih, tinggal belok ke kiri … hahahaha. Permasalahannya jalan di Sumatera termasuk berat, jalannya ada yang belum semulus di Jawa, masih banyak hutan, gelap, jarang lampu, rumah makan dan rumah penduduk jaraknya jauh.
Dari Jakarta sampai kampung halaman saja capek banget terus dilanjutkan ke Singapura dan Malaysia. Duh …
Kalau lewat darat, butuh driver 4 oranglah paling sedikit 2 orang. Bawa uang juga harus banyak, apalagi kalau ke Singapura, ga mungkin kalau ga beli.
Kalau soal visa dan passport ga masalah, tinggal urus.
Tapi wait …. bagaimana kalau sampai Singapura saja, ke Malaysia ga mau achhh … Ketemuan saudara yang tinggal di Malaysia diperbatasan saja 
October 6th, 2007 — Story, Traveling
Orang-orang pada pulang kampung lebaran nanti. Senang ya … apalagi kalau kampungnya dekat, misalnya di daerah pulau Jawa, cuma beberapa jam. Kecuali kalau ke Jawa Timur ujung yang jarak tempuhnya sama ke Sumatera Barat, bisa 2 hari 1 malam. Kalau jalan di Jawa mulus, banyak lampu, keamanan terjamin. Tapi kalau pulang ke Sumatera, wuihh deg-degan, penuh petualangan, pengaturan time yang tepat agar tidak masuk ke wilayah yang banyak bajing lompatnya. Kalau menurut Auliah, paling seru kalau ketemu monyet yang jenisnya baru dilihat di kebun binatang, ketemu babi hutan, harimau, kadal raksasa, suku Badui, lihat pohon sawit, pohon duku dan durian plus sama buahnya. Memandang dan berharap kapan kita lihat laut. Saking rindunya, pernah langit biru diujung mata dikiranya laut, berarti sudah sampai Merak. Atau kalau sudah dijalan mulus dan lurus berarti sudah sampai kampung halaman. Itu namanya seru habis …
Nah, itu kalau pake kendaraan. Kalau pake pesawat terbang, cepat, ga cape, murah. Sepupu Auliah dapat tiket Rp. 100.000 … hmm … aman ga ya … cuma segitu harganya
Apapun kendaraannya, yang penting pulang kampung. Kalau sudah sampai di kampung halaman. Kita muter-muter ke seluruh Minangkabau. Pemandangannya ga bakalan bosan untuk dilihat apalagi makanannya. Dimana-mana makanannya enak semua. Walaupun di Jakarta juga ada restoran Minang tetapi rasa makanan di kampung lain banget, … pokoknya lebih enak. Sebentar-bentar kita makan dan makan. Pernah Auliah di kampung cuma 7 hari naik 5 kilo …….. hahahahahaha ….
Duh, jadi kangen sama kampung halaman, pulang kampung yuuukkkk …. rame-rame lebih seru ….
Sumber foto pada paragraf pertama : Daniel
Foto yang kedua : Corbis
October 5th, 2007 — Story
Pergi jalan keluar dari rumah saat puasa dan sinar matahari sangat terik membuat cepat haus.
Minggu kemarin, saya pergi ke toko buku Gramedia di Blok M. Siang yang sangat panas tapi ada angin yang berhembus. Jalan menuju ke Blok M lumayan lancar, macet sedikit di Pondok Cabe.
Sesampainya di Blok M, wuiih banyak sekali orang-orang belanja di Ramayana, Matahari sampai di toko-toko penampungan sementara pedagang yang terkena kebakaran.
Kakilima yang jualan tas dan sepatu super murah dengan kualitas Ok deh, juga dipadatin pembeli. Jalan saja susah minta ampun, saya sampai harus mendorong pantat orang dengan tas.
Saya dehidrasi, haus sekali, tenggorakan kering sekali sampai tersekat. Beberapa orang saya lihat pada beli minuman es kelapa, teh botol, makan bakso didepan umum.
Asyik sekali ya … tapi saya tahan agar ga buka, tahan sakit kepala karena kena sinar matahari yang terlalu menyengat, yah anggap saja ini cobaan dibulan puasa.
Rencananya mau ke Kota juga tapi lihat pembelian tiket busway tidak bergerak, super panas, kemudian pas dihaltenya antrian juga panjang baget akhirnya dibatalkan daripada nanti kenapa-kenapa ya …
Pas buka puasa, saya langsung minum sebanyak-banyaknya.
Kalau sebulan saja seperti ini, ga minum-minum, koit kali ya …
September 25th, 2007 — Kesehatan, Story
Duh, banyak nyamuk. Gigitannya tajam. Langsung buka pintu dan jendela, mereka menghambur ke dalam.
Duh, banyak nyamuk … sudah disemprot jangan datang lagi ya … Mau tidur …
Duh, banyak nyamuk … mudah-mudahan bukan nyamuk malaria. Tapi saya lihat kalian ga ada tampang nyamuk malaria.
Duh, banyak nyamuk … jika musim panas terlalu panjang ….
September 25th, 2007 — Bisnis, Story
Karena global warming local, lem lantai di rumah pun mengering.
Becanda ding… kali lho
Menurut tukang yang biasa pasang lantai, banyak rumah-rumah yang lantainya itu pada copot lemnya. Kata pak tukang karena terlalu panas, jadi “lem”nya mengering, terlepaslah. Pak tukang ini juga mengerjakan lantai di rumah lain yang terlepas dari “lem”nya.
Mula-mula kaget banget, karena lantai itu naik keatas. Kalau saya pijak, lantai turun naik dan berbunyi. Duh, tanya dalam hati, timbul parnonya … tadi memang ada gempa ya … atau ini efek dari gempa
Cepat-cepat panggil Bapak. Bapak saya dengan santai, gpp kok. Maklumlah saya, belum pernah kejadian seperti ini dan cuma bisa bilang “Oh …”
Jadi sekarang lantainya dilepas untuk penyelamatan. Dan yang belum terlihat menaik dan bunyi-bunyi, diketok-ketok “Halloooo, anybody home ?” Kalau nyaring bunyinya berarti harus dilepas dan dipasang lagi dengan “lem” baru. Kalau ga cepat dilepas terus kita injak-injak dalam waktu lama, lantainya akan pecah. Lantai dengan warna senada yang ada dirumah sudah ga ada yang jual.
Sekarang, lantainya bercorak abu-abu dengan tekstur kasar dan coklat yang halus 
September 21st, 2007 — Sosial, Story
Menurut saudara saya, dimilist-milist lagi heboh soal gempa 9 SR. Tapi dibeberapa milist yang saya ikutin belum beredar ya …
Informasi yang pertama saya dengar itu dari wawancara MetroTV dengan ahli geologi BPPT. BPPT dan BMG sudah memperkirakan setahun yang lalu bahwa gempa di Bengkulu itu memang akan terjadi. Permasalahannya tidak tahu kapan.
Dari pada kita “pusing” sama urusan gempa, bagaimana cara kita menyelamatkan harta benda ala saya
Waktu anak Krakatau sedang batuk-batuk sedang, saya heboh cari-cari bahan-bahan tentang meletusnya si ibu Krakatau. Karena khawatir, saya mendesak keluarga mempersiapkan sesuatu jika anak Krakatau meletus. Mendesaknya tidak bilang “Ayo donk” tapi dengan cara dibicarakan terus setiap hari
Hahaha ….. dan terlaksana.
Saya masukin baju yang ringan-ringan dan kebutuhan pribadi ditas ransel. Beli biskuit, air mineral, sikat gigi, sabun, pembersih muka, pembalut, baju dingin, kaos kaki, alat sholat, KTP, HP, charger, bulpen (kali aja buat nulis), korek api. Harus dirombak beberapa kali untuk memilah mana yang penting banget. Setelah pas, saya taruh di samping tempat tidur dengan baju dingin diatas ransel dan sendal disampingnya.
Yang membuat saya tercenung soal majalah dan buku resep masakan saya. Banyak banget, tidak mungkin dibawa-bawa. Padahal “mereka” itu merupakan benda yang paling berharga. Tapi sudah ketemu solusinya, taruh di internet aja
cari masakan yang tenar, tradisional, saya paling suka, bagus fotonya dengan menggugah selera, ga aneh-aneh dan sudah pernah dicoba dengan rasa ok.
Kalau bapak saya setelah urusan pribadinya berlanjut urusan dokumen. Beliau memang dari dulu telah menempatkan dokumen disatu tas. Tas beratnya minta ampun. Gimana diajak “lari”. Setiap hari beliau bilang ke anak-anaknya dimana tempatnya dan yang paling penting tas tersebut harus diselamatkan.
Setiap malam baca doa banyak banget, pengaturan posisi tidur, setiap hari kolong tempat tidur disapu. Kali aja ga sempat menyelamatkan diri ke luar rumah, ngumpet di kolong tempat tidur.
Bersihin loteng atas, kali aja menyelamatkan diri ke sana
Rencananya sih mau bikin gerobak kecil untuk ngangkut semua tas tapi tidak jadi mahal bikinnya.
Sebenarnya rumah saya bisa dianggap tidak terjangkau sama tsunami karena cukup berada diketinggian. Tapi siapa tahu ya … cuma dikhawatirkan gempanya. Waktu Krakatau meletus tahun 1800-an, Bogor hanya merasakan gempa kecil dan terlihat di langit Jakarta ada sesuatu.
Tapi untungnya anak Krakatau ga lama sudah tenang lagi.
Ada satu lagi yang berhasil membujuk bapak saya mengansuransikan rumah. Cuma tahan 1 tahun dan tidak diperpanjang lagi. Akhirnya kita mah pasrah saja. Yang penting udah usaha.
Untuk kasus 9 SR, kita cuek nih …. lagian mau diapain lagi … baca petunjuk penyelamatan diri sudah tapi belum dipraktekkan.
Saya malah bingung bagaimana menyelamatkan diri dari kaca yang dekat sekali dengan tempat duduk. Rumah saya itu keamanannya berlapis, kalau gempanya terjadi malam-malam, kita sibuk nyari kunci dan buka pintu. Kalau lagi panik, grogi juga cari lubang kunci.
Sekarang tinggal berdoa …. “mudah-mudahan ga ada 9 SR”.
September 13th, 2007 — Kesehatan, Photo, Sosial, Story
Rabu kemarin, gempa melanda Bengkulu, Sumatra Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sekitarnya bahkan sampai negara tetangga. Pusat Gempa di Bengkulu dengan kekuatan 7.9 Skala Richter pada pukul 18.10 WIB. BMG memberikan peringatan tsunami tapi sudah dicabut.
Saat itu, saya sedang menonton siaran berita dari ANTV. Penyiar berita saat itu mengumumkan bahwa di studionya terasa guncangan. Saya lihat layar televisi bergerak tapi penyiarnya tetap siaran, tidak beranjak dari tempatnya.
Loyalitas terhadap pekerjaan dan pemirsanya … hebat ya … nyawa taruhannya. Dia terus siaran sampai gempa reda. Cukup lama juga.
Yang nonton aja panik lihat layar televisi bergerak tak tentu arahnya. Mukanya saya lihat ketakutan tapi “jalan” terus siarannya …
Saya sendiri ga terasa gempa tapi adik laki-laki saya terasa karena dia duduk di lantai. Kalau saya duduk dikursi. Hmm … biasanya terasa sih … tapi ga tahu kenapa tidak terasa.
Sepupu, suaminya, anak-anaknya dan ibu sepupu saya yang tinggal di kota Padang ketakutan sekali. Rabu, mati lampu. Karena sering gempa, mereka tidur diluar rumah.
Tadi pagi, 5 Pagi (Jum’at, 14/9/2007), saya nonton berita di MetroTV bahwa gunung Talang sudah gempa 400 kali. Saya harap ke mereka untuk pulang ke Silungkang. Kalau sampai Gunung Talang meletus, terus ada gempa besar dan tsunami mereka tidak bisa pulang ke Silungkang. Untuk lewat Silungkang harus melewati Solok (Gunung Talang).
Menurut keterangan sepupu saya, hari Jum’at sudah hidup lampu, rumahnya tidak ada yang rusak. Banyak saudara dari pihak suami yang tinggal di rumah mereka karena letaknya lebih tinggi. Bantuan sudah datang, sudah ada yang memberi instruksi cara menyelematkan diri dari Tsunami.
Menurut wawancara kemarin pagi di MetroTV dengan ahli geologi BPPT bahwa kita menunggu gempa kekuatan 9 Skala Richter. Bapak tersebut mengharapkan bahwa gempa yang terjadi saat ini dicicil sehingga tidak terjadi yang 9.
Tapi beliau tidak tahu apakah ini gempa cicilan atau nanti ada yang 9. Beliau tidak tahu kapan yang besarnya.
Tapi saya harap ga terjadi yang 9. Duh …
Gempa di Bengkulu dan Sumbar akan terjadi dalam 2 pekan dengan skala lebih dari 5, menurut BMG.
Video : CNN
News : Yahoo, Liputan6.com, Are We Ready for Another Tsunami
Photo : AFP, Reuters
An Indonesian girl kisses her cat near her collapsed house in Lais, Bengkulu, Sumatra island, Indonesia, Thursday, Sept. 13, 2007. Three powerful earthquakes jolted Indonesia in less than 24 hours, triggering tsunami warnings, damaging hundreds of houses and sending panicked residents fleeing to high ground. Rescuers feared some victims were trapped beneath the rubble. (AP Photo/Dita Alangkara).

An Indonesian rescue team removes a body from a damaged building in Padang of West Sumatra province September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Singgalang- Muhammad Fitrah (INDONESIA).

A motorist passes cracks in a damaged road at Air Besi in North Bengkulu, 13 September, a day after a massive 8.4 magnitude earthquake shook the region. Huge aftershocks rumbled across Indonesia’s Sumatra island on Thursday but officials said the damage from a massive earthquake that killed 10 people was not as bad as feared.(AFP/Adek Berry)

A mother holds her son as he is treated by a doctor at makeshift tent hospital in Bengkulu September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)

Hospital patients stay at a makeshift tent after an earthquake, in the Indonesian city of Bengkulu, September 13, 2007. Indonesia’s Sumatra island was pounded by aftershocks on Thursday after the world’s most powerful earthquake so far this year killed at least six people and buried many more under buildings. REUTERS/Beawiharta (INDONESIA)
September 12th, 2007 — Story
Besok puasa nih … Waktu cepat berlalu ya.. sudah puasa lagi. Saya ingin sekali melakukan sebaik-baiknya, mungkin saja puasa tahun depan ga ketemu …
Pasti teman-teman sudah banyak menerima SMS permintaan maaf.
Acara meminta maaf sebelum puasa di Indonesia baru-baru ini dilaksanakan, kurang lebih 8 tahunan
Tepatnya sih ga ingat.
Zaman bahola ga ada lho, waktu saya kecil sampai 4 tahun saya kerja.
Waktu pertama kali “acara meminta maaf sebelum puasa” ini dilaksanakan didapat dari teman di YISC.
“Auliah, mau puasa nih, minta maaf jika ada salah”
Langsung deh saya bilang (masalah saya kurang suka sama orang yang minta maaf jika tidak punya salah sama saya)
“Lho, kamu ga pernah salah sama saya, ga ada perlu dimaafkan. Terus apa hubunganya sama puasa ? Dari dulu kita ga ada acara memaafkan, adanya waktu lebaran”
Dia nerangin alasan kenapa harus meminta maaf jika ada salah. And I ic.
Dan sampai sekarang, acara meminta maaf terus berjalan.
Walaupun rada aneh menurut saya, tapi karena positif dan tidak merugikan kita sokkk atuh … saling memaafkan.
Dari pesan YM ada yang bilang gini :
Do’a Malaikat jibril Menjelang Ramadhan ” “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; * Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at.
Kemarin dapat SMS dari teman dengan bunyi seperti ini :
“Assalamu’alaikum sahabat, seblm nanti kita puasa, ijinkan saya memohon maaf atas segala perbuatan & lisan saya selama ini yg tdk terjaga, menyakitkan perasaan & tdk menyenangkan. Selamat menjalani ibadah bulan puasa ya nanti. Semoga segala amal kebajikan dpt kita raih & diridhoi Allah SWT”
Kata-kata yang menyentuh hati. Saya cuma bisa terpana dan bingung mau bales dengan kalimat apa ya …
Akhirnya saya bales : “Idem” 
Saya kembali melanjutkan pekerjaan sambil mikir “kok jawabnya idem ya ?” 
Ada lagi nih :
Bila Ramadhan adalah lentera, izinkan membuka tabirnya dg maaf, agar cahyanya menembus jendela jiwa, hapuskan tiap helai khilaf, slmat mnunaikan ibadah puasa.
Duh, jawab dengan kalimat apa ya …. maunya sih kreasi sendiri tapi ga sempat. Jadi jawabnya : maafin juga ya jika ada kesalahan kata-kata dan perbuatan.
Mau tanya juga penasaran dari dulu, SMS ucapan maaf untuk menjalankan ibadah puasa, lebaran and tahun baru itu “idem” ga ya untuk semua orang ? Maksudnya si A kirim kalimat ucapan ke B, si B kirim kalimat si A ke C, si C kirim kalimat si A ke D ? 
Sebagai penutup, simple aja (hehehe ga tahu harus ngomong apa) :
Maafin ya kalau ada salah dalam penyampaian kata-kata di blog ini. Maaf lahir dan batin.
Met Puasa …
September 7th, 2007 — Sosial, Story
Perencanaan bagus jika dibuat jauh-jauh hari. Kita bisa lebih santai, lebih mantang, lebih rapi dan lain-lain.
Begitu juga puasa dan lebaran. Orang-orang sudah jauh-jauh hari membeli tiket untuk mudik. Hal ini dilakukan untuk menghindari kehabisan tiket, harga tiket yang mahal 10 hari sebelum lebaran dan antrian panjang yang melelahkan.
Seperti tahun-tahun terdahulu selalu begitu.
Berita Liputan6 Siang memberitakan bahwa tiket kereta api pulang kampung saat -10 lebaran naik hingga 40%.
Nah, pasti banyak yang sudah pesan tiket saat ini. Ayo pesan tiket sekarang, nanti keburu habis dan mahal 
Saudara saya tanya, “Auliah, lebaran nanti mau kemana?”. Sesaat saya bengong, “Hehehe, ga tahu, mungkin di rumah saja”. Jawab ngasal 
Saya cuma ketawa kecil. Lucu aja, puasa aja belum tapi sudah sibuk menyambut lebaran.
September 5th, 2007 — Bisnis, Sosial, Story
Dalam dunia dagang ada hal-hal tertentu yang harus dirahasiakan oleh publik. Saat-saat tertentu juga si pedagang akan berbincang-bincang kepada salah anggota keluarganya soal perniagaan didepan orang banyak/pembeli. Bisa jadi ini situasi yang tidak bisa dihindarkan sehingga dengan terpaksa berbicara di depan orang banyak (pembeli).
Misalnya harga pokok (modal) suatu barang, lokasi mana barang itu diambil dan sebagainya.
Paling enak orang Cina. Karena orang Indonesia masih jarang mengerti bahasa negara tirai bambu tersebut.
Kita/orang pribumi pun yang berniaga dapat saja menggunakan bahasa daerahnya. Misalnya bahasa Jawa, Minangkabau, Aceh, NTB, Papua, Maluku dan lain-lain.
Kami sering mengalami kendala dalam bahasa rahasia ini. Karena sering kali juga harus mengutarakan suatu rahasia yang tidak boleh orang tahu, dan kebetulan kami dalam posisi di tempat publik alias di toko.
Kalau kami menggunakan bahasa Indonesia, tentu semua orang tahu apa dibicarakan. Jika menggunakan bahasa Sunda, saya hanya bisa 10 %, adik saya 80%, Bapak saya bisa 40%. Maklumlah adik saya pindah SMP ke Bekasi, dia mendapat pelajaran bahasa Sunda. Sedangkan saya pindah SMA ke Bekasi sudah tidak belajar bahasa Sunda. Kalau bahasa Sunda dipergunakan, pasti saya malah sering ga nyambung dan sering tanya “Apa tuh artinya ?”. Bahasa Sunda ditempat saya (Depok) dari anak anak kecil sampai orang besar disana mengerti dan bisa mengucapkannya.
Kalau bahasa Jawa, duh kami cuma ngerti 1%, Bapak saya mengerti bahasa kasarnya sekitar 60%, bahasa halusnya 10%. Tapi pernah lho teman saya berbicara dengan teman saya yang lain menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan ditengah-tengah antara mereka ada saya. Karena saya mengerti apa yang diomongin, langsung deh nyeletuk, “Bagaimana kondisi dia sekarang ? Sudah baikan ?”. Keduanya bengong melihat saya. Ketahuannya ni yee …. 
Bahasa Cina … apalagi … kami ga bisa sama sekali. Bapak saya bisa 20%. Bapak sering sih ngasih tahu bahasa Cina yang angka tapi kok ga masuk otak ya … 
Bahasa Silungkang (Minangkabau). Bahasa kampung halaman saya ini kebanyakan ada persamaan dengan bahasa Indonesia. Walaupun orang yang bukan Silungkang pun pasti mengerti banget kecuali kalau kami ngomongnya sambil kumur-kumur. Bahasa Minangkabau menurut saya ada dua yaitu Minangkabau laut dan Minangkabau gunung. Kalau gunung itu salah satu contohnya Silungkang, rada-rada kemelayu-melayuan, jarang ada O-nya, masih ada persamaan dengan bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris, everybody know … Ga mungkin ga ngerti kecuali anak balita.
Jalan keluarnya, menggunakan bahasa Perancis. Saya pernah belajar selama 2 tahun menggunakan bahasa kumur-kumur itu. Saya anak IPS yang dalam seminggu belajar bahasa Perancis 5 hari, ada yang 1 kali pertemuan 2 jam, ada yang 3 jam. Walaupun ga bisa banget-banget, maklum kalau ulangan selalu kurang tanda kutipnya melulu. Tapi ada-lah. Lupa … ? Tinggal diasah lagi 
Adik saya selama 10 tahun bekerja di orang Perancis. Bos dan temannya berasal dari negara fashion itu. Adik saya jadi Sekretaris. Masak selama 10 tahun ga bisa nyuri-nyuri ilmu walaupun cuma sedikit.
Saya sering kok tanya ke dia, kalau kata bahasa Perancis yang ini diucapkan apa ? Dia bisa kok jawabnya.
Kita sih sebenarnya sering membahas soal angka, kata modal, kata tidak dan ya. Jadi hapalkan saja yang itu dulu.
Bereskan …
Tapi sampai sekarang ga dilaksanakan
… keseringan pake bahasa bisik-bisik 
September 3rd, 2007 — Bisnis, Story
Kalau di bulan Ramadhan banyak sekali penjualan dadakan yang menjual penganan khas buka puasa. Ada kolak, es kelapa, kolang kaling, semua makanan kecil khas seluruh daerah di Indonesia, asinan, korma dan lain-lain.
Yang saya herankan kenapa ada yang jualan asinan sayur, rujak, bahan yang terbuat dari ketan.
Asinan sayur itu kan mengandung cuka. Kan asam. Kasihan perut. Kalau yang lambungnya sakit, bukannya sembuh malah tambah parah. Rujak juga pedas ya …. idemlah ….
Kalau ketan itu keras ya… kasihan donk usus jika tiba-tiba menerima ketat, walaupun sudah dikunyah halus digigi.
Saya pernah tanya sama ibu-ibu yang jualan asinan dan rujak. Menurut keterangan beliau, banyak yang minta. Dia tahu kalau tidak baik buat makanan pembuka puasa.
Duh …. saya jadi ga ngerti …
August 31st, 2007 — Bisnis, Kesehatan, Sosial, Story
Uang RI kenapa jarang yang cakep ya … jika sudah beredar dari tangan ke tangan. Dari bank, mulus, bagus, ga lecek, bersih tapi sudah pindah tangan ada saja yang berubah.
Parahnya uang RI yang sobek terus disambung menggunakan silotip sedemikian rupa masih bisa jadi alat pembayaran.
Bukan sobek saja, ada yang sengaja disundut dengan rokok, bekas steples, ada tulisan “I love Dian”, “Wayang orang”, “Fuck you”. So what gitu lho … !!! Rupanya kita memang hobi “meninggalkan jejak” selain di pohon, di dinding gua, di batu, tembok rumah.
Ada juga robekan dipinggir uang.
Duh, kalau ga teliti dan diterima sahlah menjadi pembayaran transaksi pembelian/penjualan.
Sudah 3 bulan saya menerima uang yang diselotip. Jadi saya harus mencek bolak balik. Kalau ada sobekan, disilotip, saya ga terima. Terus ada uang sudah “Dekil of de kumel”. Ihhh …. jijik kalau megangnya. Kalau di mikroskop udah berapa juta bakteri yang ngendon disana. Apalagi uangnya untuk nutupin mulut jika batuk atau bersin. Yeaakkk ….
Kalau uang Rp. 100.000 model plastik saya ga terima kalau sudah disteples apalagi ada bekas sobekan ditengah.
Kita punya kebiasan meremek (apa ya istilahnya) atau membuat kusut, dibuntel-buntelin, dilipat-lipat. Duh …
Belum lagi kita harus hati-hati, jika ada uang besar, apakah uangnya palsu atau tidak ?
Coba pemerintah kita punya Undang-Undang yang mengatur uang yang dipergunakan sebagai transaksi jual beli harus rapi, bersih, tidak boleh dilipat, dilecekin, diremek-remek, sobek, dibolongin, dicoret-coret, dll deh.
Kalau ketahuan dengan sengaja memperlakukan uang RI dengan tidak hormat dipenjara 20 tahun.
August 29th, 2007 — Bisnis, Sosial, Story
Tarif tol naik lagi ya .. gile bangeeettt. Jauh dekat sama saja. Udah kayak tarif Metromini sama Kopaja.
Jadi ingat tinggal di Bekasi.
Kalau mau ke Bekasi selain lewat Kali Malang yang super macet jika jam sibuk bisa melalui jalan tol. Sami aja sih, but ga gitu-gitu banget macetnya. Lumayanlah.
Ciri-ciri macet jalan tol Dalam Kota, Cawang - Bekasi Timur itu khas banget, ga tahu deh kalau yang lain. Kadang-kadang macetnya ga jelas gitu. Pas nyampe pembayaran ga ada apa-apa, mungkin macetnya karena ngantri bayar kali ya .. Tapi itulah mengesalkan … macetnya sampai Cawang booooo
Bahkan sampai Komdak.
Kalau pagi hari, macet itu bisa dari Tol Barat karena bayar tol di Jatibening terus sampai keluar pintu Komdak.
Sebab lain macet di tol karena dilain arah ada kecelakaan. Arah yang berlawanan tidak ada kecelakaannya tapi macet. Mobil-mobil yang melewati kecelakaan tersebut memperlambat kecepatannya … mau ngapain ? NONTON SEKILAS PANDANGAN 
Tapi lumayanlah masih bisa jalan walaupun kayak keong kecepit pintu 
Tol macet super parah, jika ada kecelakaan super hebat yang memakan dua arah jalan atau kecelakaan itu baru saja terjadi.
Dijamin bisa ga jalan benaran selama 3 jam lebih.
Saya pernah tuh, pulang jam 5 sore sampai di rumah jam 9 malam, sudah termasuk nungguin bis datang. Rupanya ada kecelakaan berat. Mobil ke arah Cawang, terbang ke jalan berlawanan yaitu arah Bekasi. Kecelakaan yang hebat. Atau truk selip ban, tumpah semua isinya, melintang ditengah-tengah. Ya .. nasib nungguin mobil derek yang juga kejebak macet.
Tidak selamanya tol itu macet. Kalau jam sepi, jarak tempuh dari Komdak sampai Tol Timur bisa 25 menit. Persis seperti iklan perumahan yang banyak bertebaran di sana. Pernah juga saya di jalan tol cuma 15 menit. Bayangkan. Gile .bener !! Supirnya ngesot habis … pas keluar jalan tol Timur, 90 % penumpang pada turun semua termasuk saya. Kata mereka, cari penyelamatan diri.
Setiap kenaikkan tarif tol dan BBM, ongkos bis juga naik. Terakhir itu Rp. 3.500,- untuk Patas Biasa. AC itu Rp. 4.000,- sudah termasuk ongkos tol.
Menurut informasi mantan tetangga, ongkos bis sudah Rp. 5.000,- sudah termasuk bayar tol. Kalau sekarang ga tahu, apakah ongkos bis bisa turun ? Karena jarak Bekasi ke Komdak itu sangat jauh dan hanya bayar 1 kali saja. Kalau dulu harus bayar 2 kali.
Hmm … seperti biasanya sih kalau harga sudah naik susah turunnya lagi
Kita mah pasrah saja, karena dia monopoli. Ada sih PPD AC tapi jumlahnya sedikit dan lama datangnya serta lelet jalannya.
Dibandingkan dengan ongkos ke Bekasi lewat tol, PP cuma Rp. 10.000,- sudah sampai Blok M. Tinggal ditempat sekarang lebih mahal ongkosnya. PP bisa menghabiskan ongkos Rp. 50.000,-.
August 17th, 2007 — Politik, Sosial, Story
MERDEKA !!!
Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan jerih payah yang luar biasa, mengorbankan banyak jiwa dan harta.
Kemerdekaan yang tidak diberikan secara cuma-cuma dari penjajah. Pendahulu kami merebutkan dengan gagah berani, meneteskan darah dan linangan air mata.
Sekarang, kami, generasi penerus masih berjuang untuk lepas dari penjajah yang terselubung. Penjajah ini menekan mental bangsa kami. Mereka berusaha merebut secara perlahan tapi pasti apa yang kami miliki selama ini.
Mereka ya.. mereka … dengan berbagai cara mereka akan merebutnya. Mereka mempunyai mata-mata yang sudah dari dulu mengetahui apa yang kami miliki. Kami miliki sesuatu yang sangat berharga dan mereka sudah tidak memilikinya untuk melanjutkan kehidupan.
Jika saat itu datang, rakyat Indonesia akan merapatkan barisan, dengan semangat berkorban menghadang dengan gagah berani.
Rakyat Indonesia bisa melupakan kesengsaraan, pertikaian, kemelut demi mengusir mereka.
Demi Indonesia ….
Baik buruknya Indonesiaku tetap INDONESIAKU.
JANGAN USIK KAMI JIKA MEREKA TIDAK MAU KENA AKIBATNYA.
SELAMAT PANJANG UMUR INDONESIAKU.
August 8th, 2007 — Movie, Sosial, Story
Malam tadi, tanggal 9 Agustus 2007, jam 00.04 WIB atau ada yang bilang 00.06.
Ada GEMPA dengan kekuatan 7 skala Richter. Menurut Geologi USA, 7.5 skala Richter
Saya sendiri baru tidur jam 00.01. Baru 90% dibawah alam sadar, bunyilah SMS. Kaget, lemes … rupanya ada sms dari adik yang menanyakan “Terasa gempa ga ?”. Saya bales, “Tidak”.
Dia bales lagi, “Ada gempa”. Saya cari jalan tengah, “Gini aja, Auliah hidupkan televisi, terus ke MetroTV, OK”.
Mata sih masih setengah terbuka, jantung berdebar kencang bukan karena gempanya tapi karena SMS datang ditengah malam.
Iya benar, diberita berjalan MetroTV, ada gempa di Indramayu, tapi belum terlihat berapa skala. Maklumlah, mata baru setengah terbuka.
Setelah tahu ada gempa, matikan TV, SMS ke adik memberi kabar bahwa memang ada gempa dan saya suruh dia tidur karena sudah aman.
Paginya, langsung hidupkan TV. Wouuu …. gede juga skalanya dan hampir dekat Jakarta.
Kemudian buka komputer dan cari berita dunia, ketemu CNN. Di CNN penyampaiannya seru juga, klik di bagian Indonesia earthquake explainer. Coba di televisi Indonesia neranginya seperti itu.